George Orwell: Animal Farm

Goerge Orwell. Animal Farm. Edisi II cetakan kesebelas, Januari 2021

Tirani berakhir, terbitlah tirani yang baru. Begitu gambaran besar yang ditulis George Orwell, novel berjudul Anilmal Farm. Novel klasik ini laris ketika pertama terbit tahun 1945, dicetak ulang sampai sekarang, abad XXI. 

Novel itu laris, karena relevan dengan keadaan masa Perang Dunia II. Dimana-mana revolusi meletus, lalu membicarakan soal negara (state) dan bangsa (nation). Tirani yang dijalankan dengan cara-cara otoriter sedang populer, seperti di Soviet.

Orwell lihai melihat siasat kekuasaan. Meski karekter tokoh yang dihadirkan dalam bentuk hewan. Lalu latar tempatnya di sebuah peternakan. Namun Orwel berhasil seakan membuat analogi proses terjadinya negara yang berakhir oleh belenggu tirani. 

Bahasan mengenai ideologi juga turut dihadirkan, Orwell membuat istilah yang aneh namun unik memberi nama ideologi itu; Binatangisme (animalism). Ideologi itu dicetuskan oleh karakter babi tua yang bijaksana, lalu menjadi ajaran praktis. Ia mengajarkan mengenai kesetaraan para hewan dengan manusia. Lalu melawan kerja yang hanya menguntungkan manusia. Juga berkeyakinan bahwa 'kaki empat baik (binatang), kaki dua (manusia) jahat'. Slogan yang menghasut untuk membenci manusia.

Sekilas, ajaran ini mirip-mirip ajaran Marxisme, yang mendorong perubahan secara radikal melalui revolusi. Segala tirani yang menindas harus diakhiri. Para hewan harus bekerja untuk dirinya sendiri, bukan untuk manusia yang hanya memperalat mereka demi kepentingan sendiri.

Satu alur yang menarik dari novel ini ketika muncul tirani baru, seperti yang sudah disebut di awal. Kekuasaan yang bahkan dijalankan oleh sebangsanya sendiri (dalam konteks novel itu adalah para hewan), dijalankan dengan penuh 'kecurangan'. Menghianati arti revolusi itu sendiri. Gelagat para penguasa, sulit terhindar dari sindrom 'gila hormat'.

Gejala-gejala kecurangan itu nampak dari para babi, karakter yang dihadirkan oleh Orwell. Ada satu babi dipercaya penuh memegang kendali peternakan karena ia pintar. Babi-babi itu membuat kebijakan 'kerja suka rela', namun sebenarnya hasil kerja suka rela hanya dinikmati oleh para babi, atau segelintir babi saja. 

Ada yang protes? tidak ada. Karena hewan lain bodoh, sedang para babi bisa membaca, yang lain tidak, dan dibiarkan bodoh. 

Jika ada yang protes dan berkhianat (misal bersengkongkol dengan yang dianggap musuh) maka akan dibunuh tanpa diadili. 

Meski musuh itu sebenarnya 'hantu', alias dibuat-buat sekan ada sesuatu yang mengancam. Masuh palsu itu dibuat untuk mepercepat pembangunan, atau sekedar menakut-menakuti agar bersatu guna 'melawan' musuh yang sama. Kalau sudah bersatu kan enak, apa-apa bisa kompak. 

Mirip, kan? Di satu negeri, nun dimana orang-orang ditakut-takuti oleh hantu yang merah itu, yang kekiri-kirian itu. Padahal wujudnya sudah lama hilang. Ya meski pemikirannya masih.

Hal menarik lain, yang membuat novel Orwell masih relevan dibaca adalah soal 'kebohongan'. Orwell menulis dengan jelas soal kekuasaan yang dijalankan dengan 'kebohongan'. Bahkan delam keadaan krisis yang terjadi di peternakan Binatang. Babi yang memimpin para binatang malah membalikan fakta mengenai krisis lewat propaganda. Itu dijalankan demi menenangkan hati rakyat, dan mempertahankan citra baik pemimpin.

 Propaganda dijalankan lewat juru bicara, tentunya. Jubir itu juga seokor babi. Yah, sebut saja semacam Menteri Penerangan.

Hasilnya, jelas adalah kesadaran palsu. Para hewan lain yang bekerja di lapangan mengira mereka bekerja untuk dirinya sendiri. Padahal, sekalipun sudah revolusi dan mendekralasikan kemerdekaan. Masih saja mereka menderita. Lebih parahnya, penderitaan yang dimaklumi.

Ini karena kekuasaan yang baru justru memiliki perilaku seperti manusia yang berkuasa sebelumnya. Bahkan, lebih buruk. Sebab tirani yang dijalankan para babi menjadi lebih samar melalui propaganda yang dilakukan. 

Kini, manusia dan babi (yang menjalankan kekusaan baru) sama saja. Bahkan Orwell membuat para babi bisa berdiri dengan dua kaki. Satu yang kemudian menyimbolkan bahwa mereka tidak ada bedanya; dalam hal menjalankan kekuasaan di atas tirani (yang baru).

Makhluk-makhluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lain. -Animal Farm hlm. 140

Demikian.

Nulis essay, reveiw buku, dan feature. Sesekali (iseng) nulis sastra.

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar
© Dhima Wahyu Sejati. All rights reserved. Developed by Jago Desain