Emak-Emak Nonton Dirty Vote

Foto bersama sebelum diskusi. dok AJI Solo

Yang menarik ketika nobar dan diskusi film Dirty Vote di depan Mushola Al-Ahkam Fakultas Hukum UMS kemarin (20/2) bukan karena para aktor dan sutradaranya, tapi karena kehadiran emak-emak.

Saya waktu nyempil di pinggir, kelihatan ada emak-emak ikut desak-desakan duduk bersama mahasiswa. Ternyata ketika sesi tanya jawab ada salah satu yang angkat tangan dan berpendapat, bukan tanya, tapi menyatakan keresahan.

Ibu rumah tangga berusia 56 tahun itu bilang seharusnya demokrasi, termasuk Pemilu, berlangsung jujur, prosesnya transparan, dan adil. Karena kalau prosesnya tidak transparan, kata dia, sangat mungkin akan curang, dan itu sudah terjadi.

Diskusi bersama pemain dan sutradara film Dirty Vote di FH UMS. Dok Pribadi. Februari 2024

Emak-emak yang saya tidak dengar jelas siapa namanya itu, sebelumnya sudah nonton film Dirty Vote di rumah. Agaknya anggapan bahwa emak-emak kebanyakan tidak pintar dan tidak ngerti politik itu salah, karena ternyata ada yang mau mengunyah materi berat yang disampaikan oleh Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar itu.

Jangan salah, anak-anak muda sekalipun ada yang merasa materi film Dirty Vote itu berat. Tidak sampai di alam pikir mereka. Maklum. Tentu akan lebih mudah nonton bapak-bapak joget atau sejuta gimmick politik lain.

Di belakang, saya juga melihat emak-emak berjejer duduk menyimak ceramah para dosen Tata Negara itu. Saya perhatikan sepertinya emak-emak ini khidmat mendengar. Dari situ harus kita sadari, bahwa ternyata emak-emak, juga peduli isu-isu politik dan hukum.

Suasana di luar FH UMS saat pemutaran film Derty Vote. Nampak mahasiswa semakin malam memadati area gedung. Dok. Pribadi. Februari 2024

Padahal Pemilu kemarin, bahkan perbincangan politik kita secara umum, selalu menganggap remeh posisi emak-emak. Lebih sering kita memperhatikan anak muda, terutama Gen Z dan Millennial, alasannya hanya karena mereka menjadi pemilih mayoritas.

Yang kita lupa, hajat hidup orang banyak itu bergantung pada diri emak-emak. Kalau emak-emak sudah mengeluh harga sayur di dekat rumah naik, berarti sedang tidak baik-baik saja. Kalau emak-emak mengeluh dapur ora ngebul, berarti ada keluarga yang tidak sejahtera. 

Saya merasa, kalau-kalau negara memang tidak baik-baik saja, emak-emak ini lebih tahu apa yang harus dilakukan jika dibandingkan mahasiswa sekalipun. 

Sebab setiap kali ada forum serupa, mahasiswa selalu melontarkan pertanyaan sama. Mereka pasti tanya kalau pemerintah selanjutnya korup, kebijakan nyeleneh, zolim, menindas, dan kebebasan dibatasi, lalu apa yang harus dilakukan?

Saya yakin emak-emak pasti akan tahu jawabannya. Karena jawabannya kan cuma satu, ya lawan! Gitu. Jangan salah, emak-emak kalau soal begini, mereka tidak buta arah dan ngerti tujuan. Jangan bandingkan dengan kekuasaan hari ini; menghidupkan sen kiri tapi malah belok kanan. Bikin bingung.


Penulis/Jurnalis

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar
© Dhima Wahyu Sejati. All rights reserved. Developed by Jago Desain