Sempat ramai dugaan kekerasan oleh oknum guru di salah satu SD Negeri di Solo pada awal September 2026 lalu, hingga menarik perhatian Wali Kota Solo, Respati Ardi. Guru tersebut dikabarkan menegur siswanya dengan menjambak, menampar, mencubit, hingga menyentil murid. Begitulah pengakuan dari orang tua yang viral di media sosial.
Ketika mencuat kabar dugaan sikap kasar oleh guru ke murid di salah satu SD Negeri di Kota Solo itu, ingatan saya kembali ke masa-masa sekolah dulu. Di masa itu, rasanya hal serupa lumayan lumrah terjadi.
Saya menduga, guru itu mungkin saja meniatkan tindakannya semata-mata untuk mendidik. Pola seperti ini pernah saya alami juga ketika masuk SD di era 2000-an awal. Saya ingat saat itu, guru kelas kami memberi tugas yang agak unik, yakni membawa sebatang kayu panjang nan tipis. Masing-masing anak membawa satu.
Kayu itu digunakan guru untuk mengajar di kelas. Fungsinya sederhana, guru menggunakan kayu itu untuk menunjuk kata demi kata di papan tulis hitam yang masih menggunakan kapur.
Namun kadang, fungsi kayu itu lebih dari sekadar penunjuk. Kayu itu tak jarang mendarat ke meja kelas, dipukul sangat keras hingga ruangan seketika hening. Ternyata, kayu itu cukup sakti untuk membuat para siswa diam.
Tapi di tangan guru yang menurut para siswa lebih galak, kayu yang biasanya disimpan di pojok kelas itu, kadang akhirnya mendarat ke tangan, bahkan kepala siswa yang dianggap nakal. Tentu tidak keras, tidak sampai memar, tapi cukup sakit dan sukses membuat kami kapok membuat guru naik pitam.
Pola pengajaran seperti ini sebetulnya sudah lama ada. Cerita-cerita serupa sering saya dengar, bahkan dari orang-orang yang jauh lebih tua dari saya. Cara seperti ini mungkin bagi sebagian guru senior masih sering dipakai, salah satunya mungkin oleh oknum guru SD yang saya singgung di awal tadi.
Guru yang menggunakan pendekatan semacam itu biasanya akan ditakuti siswa. Siswa menjadi segan dan cenderung akan menurut serta patuh kepada guru. Sebab kalau saja siswa tidak menurut, mungkin telinganya akan kena jewer hingga memerah.
Namun, cara-cara seperti itu sebetulnya tidak sepenuhnya efektif. Sebab, siswa lebih dikendalikan oleh rasa takut, ketimbang kemauan atau inisiatif sendiri untuk melakukan sesuatu.
Iya, memang ia akan patuh. Tapi kepatuhan yang dibangun atas dasar rasa takut, menurut saya, tidak bertahan lama dan kurang bagus dalam jangka panjang. Pendekatan fisik untuk membuat siswa patuh justru berisiko mematikan karakter mereka dalam jangka panjang.
Karakter yang mati itu salah satunya adalah curiosity atau rasa ingin tahu yang secara alami sudah ada di dalam diri siswa sejak kecil.
Siswa yang hanya sekedar patuh, atau dalam istilah agama taklid buta, tidak akan berani mengajukan pertanyaan yang sebetulnya membuatnya penasaran. Apalagi sampai berani mengajukan argumen dan sanggahan kepada guru. Boro-boro menyanggah, sekadar angkat tangan di kelas pun tidak berani.
Setiap guru yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya, nyatanya bukanlah tipe-tipe guru yang menggunakan pendekatan keras seperti cerita di awal tadi. Sebaliknya, mereka adalah guru-guru yang membangun relasi selayaknya figur yang patut digugu dan ditiru. Serta yang lebih penting, mereka mampu memantik rasa penasaran dan membuat siswanya haus mencari jawaban.
Salah satunya adalah guru Sejarah sewaktu saya duduk di bangku SMA, Bu Evi Ariyanto, yang sekarang masih aktif mengajar di SMAN 4 Solo. Bisa dibilang, cara saya berpikir, ketertarikan terhadap buku, hingga minat menulis awalnya dipantik oleh beliau.
Sebagai seorang storyteller yang baik, cara bercerita Bu Evi membuat saya terus berpikir dan menyadari bahwa narasi sejarah itu tidak pernah tunggal.
Salah satu pesan beliau yang paling saya ingat adalah tentang pentingnya membaca buku. Di banyak kesempatan, beliau selalu menyelipkan pesan betapa pentingnya membaca. Pesan itu juga beliau terapkan sendiri. Bu Evi adalah satu dari sedikit guru yang rajin membaca buku nonpelajaran di sekolah.
Diam-diam saya mencontoh kebiasaan itu, hingga hampir tiap hari saya mampir ke perpustakaan sekadar untuk membaca majalah lawas dan meminjam buku.
Apa yang dilakukan oleh Bu Evi, entah disadari atau tidak, sebetulnya sangat selaras dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD). Terutama jika kita menengok asas Trilogi Pendidikan yang sangat terkenal itu; Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Di depan, seorang guru memberi teladan; di tengah, ia membangun semangat dan karsa; lalu di belakang, ia memberikan dorongan moral.
Lebih jauh lagi, pemikiran KHD, menegaskan bahwa hakikat mendidik bukanlah "memaksa" atau "memukul" anak agar patuh. Mendidik adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya. Menuntun di sini termasuk merawat rasa penasaran (curiosity) dan nalar kritis yang sudah tumbuh secara alami di dalam diri mereka.
Kita kadang terjebak pada pemikiran usang, seperti teori Tabula Rasa ala filsuf John Locke, bahwa siswa adalah kertas atau kanvas kosong. Namun, pandangan itu menurut saya terlalu menyederhanakan kompleksitas kepribadian setiap siswa.
Sesuai dengan filosofi Teori Konvergensi KHD, akan lebih adil jika kita menganggap bahwa setiap anak lahir dengan pola coretan buram yang sudah tergambar. Mereka bukan semata kertas kosong. Tugas pendidiklah menebalkan dan memperjelas coretan-coretan baik yang unik itu, sehingga siswa bisa mencapai potensi maksimalnya.
KHD sendiri sebetulnya juga menggambarkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun, dan anak-anak layaknya biji tumbuhan. Setiap siswa tumbuh dengan jenis bibit yang berbeda-beda. Tugas guru adalah menyiapkan tanah yang subur, mengairi, dan memberikan pupuk yang bagus agar tanaman itu tumbuh subur sesuai kodrat benihnya.
Petani yang baik tidak akan memaksakan batang dan tangkai benih jagung untuk tumbuh menjadi pohon mangga, atau memaksa batangnya meliuk ke arah tertentu. Sebab, jika dipaksa, apalagi dengan kekerasan, yang terjadi justru batangnya akan patah dan gagal mencapai potensi alaminya. Biarkan batang dan tangkai itu tumbuh ke arah cahayanya masing-masing secara alami.
Dengan pendekatan seperti ini, siswa akan lebih memanusiakan dirinya. Mereka bukan robot, apalagi sekedar sumber daya, yang dituntut untuk patuh buta dan menurut tanpa punya kehendak serta kesadaran sendiri.
Pada akhirnya, cara-cara lama yang mendisiplinkan lewat kekerasan fisik dan ancaman sudah terlalu usang dan tak lagi relevan untuk mendidik anak-anak kita.
Saya tentu tidak bermaksud menggurui, apalagi meremehkan beban berat yang dipikul para guru. Guru di Indonesia menghadapi tantangan dan masalah sistemik yang teramat kompleks.
Namun, saya kira kita semua bisa sepakat, bahwa tugas mulia seorang pendidik bukanlah mematahkan ranting-ranting yang sedang tumbuh demi sebuah kepatuhan semata, melainkan merawat akar-akar kemanusiaan agar anak-anak kita dapat tumbuh menjadi individu yang mandiri, kreatif, dan berakal budi.