Layla Majnun: Representasi Cinta kepada Allah

Syekh Nizami. Layla Majnun. Diva Press. 2020. 224 hlm: 14 x 20 cm | ISBN 978 602 391 900 0

JIka ngomong soal roman picisan di Indonesia. Memori kolektif kita mungkin merujuk ke Siti Nurbaya, atau Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Itu cuma salah dua aja.

Kalau ngomong roman eropa, musti yang teringat Romeo Juliet. Kisah-kisah itu ajib pada masanya, dan mempengaruhi banyak penulis setelahnya. Namun ada satu roman yang lebih tua, kisah klasik Layla Majnun, disusun oleh Syekh Mizani. 

Konon, kisah Layla Majnun yang mempengaruhi roman Romeo Juliet. Tidak berlebihan jika mau disebut buku babon soal asmara. 

Banyak yang menafsir kisah ini ala ala sufi yang menghendaki tasawuf. Menghubungkan cinta Qays kepada Layla seperti cinta seorang hamba kepada Allah. Tafsir itu sah sah saja, novel terlebih karya sastra itu bebas interpretasi. Kamu juga boleh saja menafsir Layla Majnun itu kisah percintaan remaja di masa lalu. Namun aku kepingin menafsir ala ala sufi. Mari. 

Para sufi kebanyakan mengajarkan soal cinta harus terpisah dari nafsu. Nafsu dan cinta dua hal yang berlawanan. Nafsu cenderung menghancurkan, cinta menyembuhkan. Kemurnian cinta mengarahkan pada keikhlasan untuk memberi, mengasihi, berkorban sekalipun ia menderita. 

"Kelak engkau akan tahu/ Perpedaan cinta dan nafsu/ Wahai, Layla, nafsu akan melemahkan hati/ Ia senantiasa menggoda dan merayu/ Namun kelak akan menyesal/ Sedih tidak berkesudahan//" begitu puisi Qays alias Majnun kepada Layla. 

Cinta yang tumbuh dalam diri Qays merembet ke sesama makhluk lain; hewan dan tumbuhan. Qays dalam satu kesempatan menasehati penebang pohon cemara, "duhai tukang kayu pernahkah cinta menyapa hatimu?" 

"Jika engkau pernah merasakan semua itu, maka hentikan tanganmu yang sudah terangkat itu dan tahan tebasan itu, bebaskan pohon cemara dari kapakmu dan jadilah engkau sahabatku!" 

"Apakah engkau mengerti, mangapa aku berbuat seperti ini? amatilah sekililingmu, pohon-pohon dengan bunga-bunga yang sedang mekar. Semua keindahan ini mengingatkan aku pada Layla. Semua pesona dan keindahan hakikatnya adalah kekasihku." 

Cinta Qays kepada Layla menumbuhkan cintah lain. Keindahan Layla, memikat hati. Hati kemudian mencintai keindahan lain; keindahan alam semesta. Cinta ini yang mendorong untuk merawat semesta; pohon, tumbuhan, juga hewan. 

Adegan lain ketika Qays melihat ada yang memburu rusa di hutan. Lagi-lagi ia mengigat Layla, "engkau berupaya untuk membunuh mata besar hitam (rusa) yang bersinar laksana mata Layla." Kecintaan juga bisa disebabkan rasa kasian, ia kasian kepada si rusa juga kasian kepada si pemburu, ia tidak sadar ada keindahan rasa cinta kepada lain makhluk, dan itu nikmat.

Selama berbulan-bulan Qays menderita sakit rindu akibat cinta. Ia sampai gila, makanya julukannya Majnun. Dianggap gila karena ia telanjang hidup di hutan. Tanpa pakain sehelai. Sebab cinta Qays adalah cinta suci tanpa dibebani nikmat dunia. Ia dengan gampang meninggalkan pesona duniawi dengan memilih tinggal di hutan tanpa pakain. 

"Walaupun emas dan permata ditaburkan untuk menyilaukan pandangan mata, namun jiwa yang penuh cinta tidak akan pernah terlena oleh kemewahan duniawi!"

"Cinta tak akan sebanding dengan emas sebesar gunung. Cinta yang bisa dibeli dengan emas dan dirham hanya akan melahirkan senyum kepalsuan. Dan lebih baik aku mati dari pada mendapat cinta seperti itu."

Kita diajari lewat novel ini, mengenai cinta murni. Cinta yang terpisah dari nafsu, juga dari harta duniawi. Namun bukan berarti hampa. Cinta punya dimensi lain, yang memungkinkan kita untuk tunduk kepada satu nama, satu saja, hanya satu, cukup satu nama. 

"Satu nama itu lebih baik dari dua. Satu nama bisa digunakan berdua. Jika kau tahu hakikat seorang pecinta, kau akan menyadari bahwa ketunggalan itu dari peniadaan dirinya sendiri untuk musnah  dan menyatu di dalam kekasihnya". Jangan salah ini adalah kata-kata Qays yang mengandung ajaran tauhid, mengenai keesaan Allah. 

Cinta Qays kepada Layla, juga sebaliknya terlalu sempurna. Kisah cinta seperti itu utopis, dan tidak mungkin ditemui di dunia nyata, antara manusia dengan manusia. Sebab itu aku lebih suka menafsir kisah cinta Qays dan Layla, adalah representasi cinta manusia kepada Allah; cinta yang lepas dari nafsu, nikmat duniawi, dan mengakui ke-esaan dan keindahan Allah. 

Hanya cinta semacam itu memungkinkan untuk mencintai keindahan lain yang terikat oleh Allah; keindahan alam semesta, termasuk di dalamnya laut, darat, gunung, langit, udara, air, pohon, hewan dan segala unsur ekologi lainnya. Dengan demikian kamu juga aku, jika berhasil menghadirkan cinta seperti di novel Layla Majnun kepada Allah, akan menjadi manusia seutuhnya; khalifah fil ard. Demikian.