Dua Guru Bahasa Indonesia, Sastra, dan Buku

Bagaimana dua guru bahasa Indonesia, Bu Atik dan Pak Joko, memperkenalkan sastra dan buku kepada saya


Sepanjang pertemuan saya dengan guru bahasa Indonesia, sedikitnya dua nama guru yang membuat saya tergerak untuk setidaknya belajar mencintai buku dan menulis. Dua guru itu adalah Bu Atik dan Pak Joko.

Bu Atik, begitu sapaanya, adalah guru bahasa Indonesia waktu SMP. Beliaulah yang pertama kali membuat pertemuan dengan buku menjadi berkesan.

Waktu itu, kami secara kelompok disuruh membeli buku di toko buku, lalu pilih salah satu secara bebas, nantinya kita harus membaca, membuat resume, dan mempresentasikan (sekaligus mendiskusikannya) di depan kelas.

Suasana kelas benar-banar dibuat semacam forum seminar yang cukup formal. Kami melakukan presentasi secara bergantian. Tiba giliran saya, tidak seperti teman lain yang membaca saat presentasi, saya mencoba mengucapkan langsung dan sedikit berimprovisasi.

Juga ketika sesi tanya jawab, saya menolak membolak-balik buku sambil mencari jawabannya. Saya malah langsung menjawab dengan apa yang saya ingat tetang isi buku tersebut. Meski saya sempat salah menjawab pertanyaan.

Tidak terasa, semua proses dari mencari buku dan membelinya di toko buku sampai proses presentasi, semuanya sangat saya nikmati.

Apalagi Bu Atik, dengan terang-terangan memuji saya di depan kelas karena berhasil memahami isi buku dengan baik jika dibanding teman yang lain. Pujian itu membuat saya candu dan kepingin terus membeli, membaca, dan membicarakan buku.

Ini yang membuat di kemudian hari, saya selalu menikmati proses membeli buku. Sering kali saya tidak merencanakan mau beli apa ketika datang ke toko buku. Saya selalu senang berlama-lama menatap judul buku satu persatu, baru memutuskan mau beli apa atau malah tidak beli sama sekali.

Meski hari ini saya tidak tahu bagaimana kabar beliau, yang menang tidak pernah saling interaksi lagi. Namun tetap saya merasa berhutang kepada Bu Atik karena momen kecil itu.

Mungkin beliau sudah lupa, namun saya selalu teringat sebab merasa itulah titik awal kenapa saya mengakrapi buku. Saya, waktu itu, ingin momen dipuji, diapresiasi, dan diperhatikan itu terulang, yang tentunya lewat buku.

Pak Joko yang Remeh

Pertemuan kedua adalah dengan guru bahasa Indonesia waktu SMA. Beliau adalah Pak Joko, guru yang selalu disepelekan olah hampir semua siswa yang beliau ajar.

Cintranya di kelas kadang tidak mengenakkan, beberapa siswa sering mebercandai soal PSK, karena konon, kebetulan rumah beliau ada di belakang RRI, tempat yang cukup terkenal karena praktik portitusi di Solo.

Saban beliau menulis dan menyampaikan apapun di kelas. Sudah pasti Pak Joko diabaikan begitu saja. Seisi kelas sangat ramai karena ngrobol sendiri. Bahkan suara Pak Joko kalah nyaring jika dibandingkan suara gaduh di kelas.

Tidak seperti Bu Atik yang melakukan tindakan, Pak Joko tidak melontarkan pujian ke saya, bahkan kita tidak pernah saling interaksi. Saya di kelas hanya duduk dan menikmati apa yang beliau tulis di papan tulis.

Pak Joko adalah tipe guru yang tidak terlalu peduli dengan suasana kelas yang gaduh, ia hanya sesekali mengingatkan, ia juga tidak terlalu mempermasalahkan kalau muridnya tidak peduli dengan apa yang ia tulis di papan tulis.

Memperkenalkan Sutardji dan Chairil

Salah satu yang ditulis oleh Pak Joko adalah puisi-puisi para tokoh sastra kenamaan di Indonesia. Salah dua yang saya ingat adalah puisi Tragedi Winka dan Sihka karya Sutardji Calzoum Bachri dan puisi karya Chairil Anwar berjudul Aku.

Untuk Puisi yang pertama, berjudul Tragedi Winka dan Sihka yang ditulis penyair angkatan 70an Sutardji Calzoum Bachri ini unik. Bagaimana bisa puisi hanya memuat kata 'kawin' yang dimainkan penulisnya dengan membolak-balik ejaan.

Ketika Pak Joko mengajarkan puisi itu di kelas. Pelajaran Bahasa Indonesia kian dianggap remeh. Kita malah diajari "kawin, kawin, dan kawin".


Puisi kedua, berjudul Aku karangan Chairil Anwar ini yang merangsang saya untuk lebih mencintai buku, menulis, lebih-lebih mencintai sastra dan puisi.


Saya merinding ketika Pak Joko selesai menulis lengkap puisi Aku itu. Bukan karena tulisan beliau yang tidak terlalu rapi itu. Namun karena baru pertama kali saya membaca puisi sebagus itu. 

Semakin saya ulang semakin sadar bahwa penulis puisi, tidak lain adalah Chairil Anwar si 'Binatang Jalang', bukan orang sembarangan, ia jelas orang penting buat republik ini.

Ternyata benar, belakangan saya tahu Chairil adalah pionir sastra modern di Indonesia. Ia sosok penting yang memengaruhi banyak penyair besar hingga hari ini, seperti Sapardi dan Jokpin.

Atas tindakan yang mungkin menurut Pak Joko sepele itu membuat saya merasa berhutang budi. Kalau saja saya tidak lekas tahu Chairil Anwar, saya tidak akan berlama-lama ke perpustakaan sekolah buat membaca majalah harrison.

Semangat saya waktu itu mencari puisi-puisi lain yang sama dasyatnya dengan karya Chairil. Lalu saya menemukan Khalil Gibran. 

Pak Joko, Pengunjung Tetap Perpustakaan

Ketika saya sibuk mencari bacaan-bacaan baru terkait sastra, saya selalu melihat Pak Joko duduk di perpustakaan dan membaca koleksi buku di sana. Perpustakaan sekolah jelas adalah tempat paling sepi, sangking sepinya banyak dihuni hantu.

Namun Pak Joko adalah orang paling konsisten berkunjung ke perpustakaan. Dan saya selalu menaruh hormat sebab saya merasa ia cukup mengusai topik soal sastra Indonesia dan ia sangat konsisten membaca buku. 

Citra beliau yang berpengetahuan luas ini, tidak pernah disadari oleh para siswa sebab tertutup dengan anggapan sepele yang disematkan ke Pak Joko 

Termasuk yang saya ingat, ia fasih menerangkan soal Chairil Anwar yang mati muda itu. Saya tahu ternyata Chairil itu punya penyakit kelamin. Chairil juga ternyata gemar bergaul dengan PSK (dan orang marginal lain) juga dari Pak Joko. Lihat misal bagaimana Chairil menemukan inspirasi sapaan "Bung" dari tempat pelacuran.

Di kemudian hari, ini membuat saya sedikit banyak menjelajahi apapun yang berkaitan dengan sastra indonesia. Pak Joko berjasa karena beliau menghantarkan saya ke depan pintu masuk dunia sastra indonesia.

Momen ini juga yang membuat saya berlatih menulis puisi setiap hari. Mesti tentu banyak yang tidak jelas dan tidak enak dibaca. Namun hasil latihan setiap hari selama SMA itu membuat saya sekarang bisa nulis esai. Berkat itu otot menulis saya lumayan terbentuk.

Namun sayangnya, saya tidak bisa berterimakasih langsung dengan Pak Joko. Setelah lulus dari SMA sekitar tahun 2016, Pak Joko meninggal karena sakit, sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan saya hanya bisa menghantar beliau di peristirahatan terakhir. 

Sayangnya selama masih sekolah SMA, saya tidak sempat ngobrol banyak dengan Pak Joko soal sastra dan buku bacaan apa saja yang ia habiskan di perpustakaan sekolah yang sepi senyap itu.



Ketika saya kemarin bertemu kawan lama waktu SMA, ia mengatakan lumayan mengikuti tulisan-tulisan saya yang ada di Facebook. Saya cukup senang karena ia mengapresiasi itu. Ia juga bilang tulisan saya lebih enak dibaca ketimbang tulisan saya waktu SMA. 

Saya juga merasa bersyukur dengan perkembangan menulis ini. Memang jika saya baca lagi tulisan-tulisan (berupa puisi) waktu SMA rasa sangat jelek, jika dibanding tulisan (berupa esai) yang saya tulis akhir-akhir ini--meski tentu belum juga saya merasa bagus. Namun, ini perlu dirayakan, dan tentu perkembangan tulisan saya itu--salah satunya berkat Bu Atik dan Pak Joko. Terimakasih.
Penulis/Jurnalis

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar
© Dhima Wahyu Sejati. All rights reserved. Developed by Jago Desain