Alternatif Cara Belajar Buat Anak-anak



Setelah bergelut ngadain bimbel di masa pembelajaran jarak jauh (PPJ) gini; kita evaluasi seluruh kegiatan selama 6 bulan ini, atau sudah lebih dari satu semester. Kesimpulannya: belajar ngerjain PR dari sekolah engga efektif, babar blas.

Penyebabanya sepele, sejak awal anak-anak emang engga niat belajar, niatnya cuna ngerjain PR dengan instan. Alhasil, yg ngerjain PR temen-temen yang jadi pendamping bimbel (mentor), anak-anak terima jadi. Maka dari itu, yang belajar bukan anak-anak, tapi temen-temen pendamping bimbel itu. Ora kacek!

Perlu disadari, kegiatan ngerjain PR terus pulang itu implikasinya jangka pendek. Sedang dalam waktu jangka panjang, anak-anak engga punya apa-apa. Iyaaa, mungkin emang nilainya bakal bagus. Tapi bukan itu yang ingin kita kejar, bukan nilai sekolah goalnya. Yang penting bagi kita itu 'proses belajar '.

Kesadaran untuk berproses ini yang kita tekankan. Maka sebisa mungkin kita-kita ini muter otak. Memikirkan metode berorientasi pada jangka panjang, dan 'proses belajar ' yang aktif. Akhirnya, kita coba metode sederhana pake gambar komik; menurut pengakuan Kang Hari, penggagas metode ini, yang juga kawanku dari jurusan pendidikan matematika, metode ini memungkin anak2 buat aktif.

Cuma aku nangkap satu tantangan; metode ini butuh persiapan yang melelahkan dan sangat panjang. Bayangkan saja, kita harus menyiapkan materi pembelajaran, lalu materi itu digambar dalam bentuk komik; membuat narasi, membuat cerita. Satu materi, bisa seminggu, bisa lebih. Kalau satu bab? Apalagi, lebih lama.

Meski panjang dan melelahkan. Metode observasi seperti ini memberi pemahaman anak-anak di memori yang paling dalam. Ia akan terus ingat apa yang dikerjakan; ini karena anak2 terus diajak aktif ngobrol, bergerak menggambar, terus diajak berfikir secara berkala dan runtut. Ini lebih menyenangkan ketimbang pakai LKS yang buram itu. Ini juga bisa jadi alternatif, mumpung anak2 di rumah pada nganggur.

Semoga, uji coba awal yang dilakukan komunitas kecil kami ini bakal membuahkan hasil. Aku? Jujur saja, engga banyak terlibat, Aku cuma memprovokasi temen-temen bahwa pendidikan kita itu masih compang-camping; orientasinya instan dan materialistik. Jadi sekali kagi, harus ada alternatif.

Usaha ini akan kita terus evaluasi, sampai punya metode yang pas; kita engga muluk2 buat metode baru, engga, kita pakai yang sudah ada. Nyatanya di perguruan tinggi diajarkan soal varian metode belajar yang buanyak.

Tapi kok di sekolah yang dipake cuma klasikal dan ceramah? Kalo konteksnya masih tahun 50an 60an ketika orang2 pada belum bisa baca, yaa monggo. Tapi sekarang kan anak2 sekarang punya segala kelebihan; sudah bisa baca sejak dini, paham teknologi sejak dini, sama pandai berbahasa sejak dini.

Yang terpenting bukan membuat motede baru. Tapi menentukan motode yang tepat dan related sama lingkungan kampung kami. Ini bisa jadi usah awal. Misi kita saat ini harus sama, yaitu 'membuat alternatif belajar yang lain dari sekolah formal'. Bukan kepingin biar bisa nyaingi sekolah formal. Tapi kita kepingin menutup 'cacat' kurikulum mereka.

Akhir kata, aku dan kawan-kawan sepakat; pendidikan itu fundamental, ia menjadi dasar untuk membangun manusia, bahkan membangun segala aspek kehidupan. Pendidikan juga menjadi kebutuhan paling primer; harus disegerakan, didahulukan. Maka kualitas harus bagus, semantara kesampingkan dulu kuantitas.

Impian kita; anak2 paham satu materi secara radikal (mendalam), ketimbang tau banyak hal, tapi cuma sekedar jadi pengetahuan, engga jadi ilmu. Ilmu kan mencakup pemahaman dan tindakan. Sedang pengetahuan, sebatas tahu, tanpa ada implikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Ini juga berarti; di tempat kita anak2 tidak harus punya nilai yang bagus di sekolah, karena nilai itu sifatnya statis. Bukan berarti melarang anak-anak punya nilai bagus. Poinnya adalah; percuma pulang sekolah bawa nilai bagus, tapi engga bawa ilmu. Ini selaras sama filosofi tembang Pocung, _ngilmu iku kalakone nganti laku_, juga selaras dengan teologi al-qalam dan _Iqro' bismirobikaladziqolaq_

Untuk sementara, kita cuma mampu menyasar anak2. Toh, orientasi kita juga jangka panjang, jadi anak-anak adalah sasaran yang paling potensial. Ke depan jika generasi awal yang pengen ada perubahan kualitas pembelajaran ini gagal. Aku selalu berharap besok usaha kita bisa dilanjutkan oleh anak2 yang sudah beranjak dewasa. 

Bukankah ini juga menjadi cita2nya Taman Siswa, juga cita-cita Mbah Hasyim dan Mbah Dahlan, juga cita-cita poro priyayi yang memimpikan kualitas manusia yang jauh dari mental terjajah? Hehehe, selamat memperingati kemerdekaan, btw.

Termikasih, kepada semua yang mau menggagas komunitas kecil ini di kampung. Aku harap ke depan kita banyak bertemu disamabi main UNO, ngopi, guyonan, karo guyup; terus ngobrol mengenai segala kemungkinan yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan visi bersama; 'membangun manusia/Human Development'. Salam hangat. Maafkan kami yang punya pandangan muluk2 dan sifat yang naif ini.