Waktu

Salvador Dali, “Persistence of Memory,” 1931, oil on canvas, 24 cm × 33 cm (9.5 in × 13 in), Museum of Modern Art, New York City.


DWSbaru bisa tidur pukul dua pagi. Itu kejadian biasa, ia menderita karena kehidupannya terbalik, lebih banyak beraktifitas serius di kala malam. Setelah tidur sampai jam 5 ia bangun sholat. Lalu tidur lagi sampai jam 8. Biasanya ia tidur sampai jam 10 pagi. Tapi karena hari ini ada janji, buat ngisi podcest soal literasi digital. 


Undangan jam 9. Aku tanya "On time atau molor?", "molor" jawabnya. Perkiraaan molornya jam setengah sepuluh, tapi sampai jam setengah sebelas belum mulai. 

Waktu memang terbuat dari karet. Ia bisa melar dan mengerut. 

Aku teringat--kalau tidak salah-- kisahnya Hatta. Ia dijadwalkan naik pesawat. Perlu diingat, bapak proklamator ini betul-betul disiplin kalau soal waktu. Ketika pesawat datang lebih awal dari yang sudah dijadwalkan, apa kata Hatta? 

"Pak, pesawat sudah hampir datang?"
"Ini kan masih terlalu cepat setengah jam"
"Iya, Pak"
"Suruh mutar-mutar di atas bandara sampai tepat sesui jadwal," begitu Hatta menjawab.

Tentu saja, itu percakapa imjiner yaa.

Dalam benak Hatta, bahkan yang namnya tepat, yaa tepat, tidak lebih, tidak kurang.

Ah, sialnya DWS, ia tidak pernah sesekali datang tepat, tapi malah kecewa. Ia juga sengaja molor, tetep saja di yang paling gasik. Sungguh waku di Indonesia itu karet. Kalau kata Einstein ini namanya relativitas, waktu itu benar-benar realtif. 

Misal DWS diundang jam 9 datang jam set 10 dan belum ada yang datang. Bisa berarti justru DWS yang terlalu cepat, si yang ngundang engga telat. Soale kan dia yang punya acara, jadi meh datang jam 5 sore sekalipun, yaa tetep tepat waktu. Soale semua itu relatif, relatif tepat waktu. Ya, kan?