Omikron


Headline berita koran, dipenuhi mengenai Omikron. 

Memang, situasi relatif lebih baik. Rumah sakit sudah tidak lagi kelebihan pasien, sudah tidak kuawalahan. Banyak orang yang juga sudah vaksin. Namun apakah itu menjadi penanda pandemi berakhir? 

Namun sayang, varian baru muncul. Ia bernama Omikron. Namanya terkesan seperti tokoh serial fiksi Transformer; megatron, Omikron. Ya mirip-mirip lah ya.

Iya, di tanah air memang sudah ditemukan kasus yang terkena omikron. WHO, mengumumkan bahwa Omikron tidak seganas varian delta. Meski begitu penyebarannya malah lebih cepat. Apa kalau begitu kita harus abai, hanya gara-gara kita sudah divaksin dan virus tidak telalau bahaya?

Nyatanya Republika (18/12/21) misal, mengabarkan pemerintah sedang menunda jadwal pemberangkatan murah, itu karena varian Omikron. Pemerintah berencana menunda sampai varian ini mereda. Meski, sebenarnya Saudi tidak melakukan pembatasan atau melarang jamaah indonesia masuk ke Saudi. 

Pemerintah, baik nasional maupun daerah, relatif tidak lagi abai seperti ketika awal pandemi terjadi. Pemkot Solo misal ada upaya mempercepat dan memprioritaskan vaksin untuk siswa TK-SD, "wali kota surakarta Gibran Rakabuming Raka berharap vaksinasi usia 6-11 tahun bisa diselesaikan dalam dua bulan" (Radar Solo, 18/12/21). Ini tentu, Gibran merespon varian Omikron yang sudah masuk ke Indonesia. 

Begitu juga di Australia, pemerintah setempat kembali memberlakukan karantina 14 hari untuk penumpang internasional. Lalu, di beberapa negara bagian (Australia) lain menerapkan kebijakan yang berbeda. Intinya memperketat kembali pergerakan komunal yang memungkinkan Omikron menyebar lebih luas. Malaysia, setelah temuan kasus Omikron, pemerintah setempat menggenjot vaksin booster. (Republika, 18/12/21 hl. 1)

Jokowi, tidak mau ketinggalan, ia secara kelembagaan sebagai presiden sekaligus mewakili pemerintah. Masyarakat diajak untuk meperketa protokol kesehatan. Ini respon positif setelah ditemukan kasus pertama varian Omikron di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta (Jawa Pos, 18/12/21 hl. 12).

Meski ini jelas berbanding terbalik dengan perilaku masyarkat. 

Minggu lalu (12/12/21), di kampung tempat saya tinggal, hajatan dengan tamu 500an orang sudah digelar. Setelah kita melewati situasi sulit di bulan Juli karena varian delta, ini adalah acara terbesar dengan menghadirkan massa yang juga banyak. 

Prokes? Diabaikan begitu saja, dengan gang dan lebar tempat hajatan yang tidak terlalu luas, kiranya susah untuk orang-orang menara jarak. Ditambah banyak pula yang tidak pakai masker. 

Begitu juga orang-orang di masjid sudah banyak yang lenpas masker. Shaf sudah mulai dirapatkan, kontak fisik sudah biasa. 

Penulis Blog

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar
© Dhima Wahyu Sejati. All rights reserved. Developed by Jago Desain