Ada Banyak Kuping yang Tidak Siap Mendengar

Arta lelaki yang pendiam. Dia bukan orang yang suka ngomong. Bukan karena enggan, tapi karena penuh pertimbangan. Meski dalam dirinya penuh gejolak. Kadang juga penuh masalah yang kepingin ia curhatkan. 

Ia juga berfikir seperti orang kebanyak, bercerita adalah jalan lain buat meratapi masalah, tentu yang dituju dari curhat bukan penyelesaian, melainkan kelegaan.

Ia sadar betul tidak semua orang mau mendengar. Kuping mereka kadang tidak siap. Banyak yang hanya mau ngomong, lalu menjadi pembicara ulung, namun bukan pendengar yang baik.

Ia enggan membani orang dengan cerita-cerita kehidupan dirinya yang nahas itu. Ia yakin, lalu berkesimpulan, bahwa ada banyak kuping yang tidak siap mendengar. Mendengar lebih sulit ketimbang bicara.

Namun Arta tidak masalah dengan segala resiko yang ia tanggung. Resiko sebagai orang yang memilih untuk "tidak bercerita". Segala gelisahnya akan menumpuk, ia bakal terpuruk. Ia jelas sudah siap.

Benar saja satu masalah, keresahan, ia pendam. Rasa gundah tidak juga tertahan. Kepalanya tiba-tiba penuh, mau pecah. Dadanya segera sesak. Ia berbicara dalam dirinya. Ia memang sering seperti itu, berbicara dengan dirinya sendiri, kadang membuatnya lega. Namun seiring waktu terasa juga sengsara.

Bara batinnya tidak terbendung. Masalahnya kini terlalu besar. Ia sebenarnya cuma menumpuk keluh kesah atau maslah yang kecil. Namun yang kecil itu, terlanjur banyak. Menumpuk sudah. Layaknya buah, masalah dan keluh kesah yang ia tumpuk bisa saja membusuk. Malah menjadi penyakit. Iya, penyakit batin.

Sebenarnya, Arta mulai berusaha membuka hatinya untuk seorang perempuan baru. Ia ibarat purnama, mungkin bisa menjadi luapan dan tumpahan terhadap segala keluh selama ini. Namun ia takut, takut kuping perempuan itu tidak siap. Lalu mengerutkan dahi, tanda risih. 

Ah, lagian ia lebih takut lagi terhadap keadaan yang sama sekali sulit untuk diprediksi. Keadaan yang menuntut sebuah komitmen.

Terhadap itu, Arta lembek. Menjadi seorang pengecut. Ia selalu berusaha, atau lebih tepatnya untuk sementara, menghidari ikatan dan komitmen. Rasanya seperti batin diikat di tiang, lalu tidak bisa kemana-mana. 

Ia sendiri bertanya-tanya, apa komitmen semenagangkan itu. Entah. Ia cuma tahu kalau dirinya cuma lelaki pengecut, tidak berani ambil tanggung jawab, dan mudah menghindari masalah.

Konsekuensi lain, dari hidupnya yang penuh dengan rasa diam adalah sepi. Arta sudah akrab dengan sepi. Sekalipun ia berusaha sembunyi dari sepi, dengan turut menghadiri tempat yang ramai. Tetap saja. Sepi yang hadir, dan sunyi sudah siap menyayat. "Aku tidak bisa sembunyi."

Arta yang malang. Ia sebenarnya diburu sepi. Segera ia sadari ia bisa mati kapan saja. Karena pada dasarnya sepi itu pembunuh. Dan tidak ada yang lebih dekat dengan dirinya kecuali sepi. Maka, ia siap kapan saja mati.

Menyadari hidupnya yang terancam itu. Ia berwasiat, kepada siapa saja, terkusus kepada seorang perempuan, yang ia tahu tidak mungkin wasiat ini bisa sampai. Sebab ia tidak punya daya untuk memberi wasiat ini langsung.

Ia akhirnya cuma mengambil kertas dan pulpen. Ia mulai menulis,

Aku kalah
Terhapus waktu
Aku pasrah
Terhadap hampa
Aku tak juga segera jumpa
Kepada nyanyi sunyi
yang menyayat bunyi

Sepi, aku sembunyi
Tapi sepi, mendapati bunyi
Aku terjebak
Berhenti sejenak
Tidak ada siapa-siapa
Perihal kata pun menjadi hampa
Kamu purnama
Aku cuma sengsara
Aku pasrah
Biar nyanyi sunyi mu menyayat
Meski perih, aku tak perduli
Aku tetap kagum,
namun sembunyi-sembunyi

Parasmu tetap anggun
Namun biar aku simpan saja
Tak usah aku ungkap
Biar aku dekap dalam-dalam


Ia sudah selesai menulis. Dadanya kini berdebar, meski batinnya sudah lega. Tetap saja, jantungnya serasa dihentak. Terasa pula nafas yang berat. Kepala pening, mata buram.

"Aku bakal mati?" pikirnya.
"Tapi karena apa?"
"Ah, karena sepi, tentunya"

Jantungnya samkian berdebar. Nafasnya sesak. Ia tersungkur di atas meja. Posisi tepat di atas meja, juga kertas dan pulpen yang tadi ia gunakan untuk membuat wasiat.

Setelah terengah mau mati, ia terbayang si perempuan itu. "Padahal aku mau mati, dan aku sudah menulis wasiat untuk mu,"
"Tapi, sepertinya aku salah"
"Itu bukan surat wasiat"
"Itu surat cinta"

Kali ini paru-parunya berhenti berkerja, jantungnya berhenti memompa. Ia mati muda.

Biar bagaimana pun kematiannya janggal. Lalu polisi datang untuk menyelidiki. Seorang pemuda mati dengan posisi terlentang di atas meja, beserta selembar kertas dan pulpen.

Si polisi mencurigai Ibu Arta. Ia cuma tinggal berdua.

"Apa ibu tidak merasa sedih karena anak ibu mati?"
"Tidak, ia sudah bilang, kalau sedari awal ia bercita-cita mati muda"

Si polisi heran, kok ada ibu yang tidak menyesali kematian anaknya.

"Menurut ibu, siapa yang membunuh anakmu itu?"
"Sudah jelas kan, ia berbaring bersama kertas dan pulpen, ia menulis, ia meninggalkan petunjuk" 
"Berarti kita sepakat, yang membunuh anakmu adalah sepi?" tanya si polisi. "Iya" ibu itu menjawab dengan lega.
Nulis essay, reveiw buku, dan feature. Sesekali (iseng) nulis sastra.

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar
© Dhima Wahyu Sejati. All rights reserved. Developed by Jago Desain