Bimbel Gratis: Titik Temu Idealisme dan Realitas



Saya mendengar persepsi kebanyakan, selalu saja membenturkan antara idealisme dan realitas. Termasuk kata salah satu teman yang lebih senior; bahwa pertaruhan idealisme dan realitas ada di ujung semester perkuliahan.

Dan biasanya, akan nampak berbenturan. Saya sulit menyimpulkan benar atau salahnya. Namun saya juga tidak akan sepenuhnya mengiyakan bahwa idealisme itu akan kandas seiring kita melihat realitas

Idealisme vs Realitas

Begini, saya sendiri punya idealisme. Punya gambaran masyarkat yang ideal. Idealisme ini lahir tidak ujuk-ujuk. Prosesnya cukup panjang


Saya melihat masalah, atau setidaknya bagi saya itu masalah. Orang-orang kampung, bahkan di kota, bagi saya masih memiliki tingkat keterdidikan yang rendah. Itu keresahan saya

Tapi kan rata-rata orang indonesia sekarang sudah sarjana? Iya, pendidikannya sudah tinggi, tapi tidak terdidik.

Misal, lihat saja kondisi jalan sehabis CFD, berubah jadi tempat sampah. Atau budaya antri di kita kurang suka tertip. Dan yang paling parah dan sering, jam ngaret, kita tidak pernah bisa konsekuen dengan waktu, tidak pernah bisa disiplin. Ini terjadi, bahkan di sidang terbuka doktor. See, orang berpendidikan, masih belum menjamin keterdidikan

Masalah itu yang saya resahkan. Saya kepingin ada perubahan, dan kepingin berjuang. Langkah besar itu saya namai dengan jargon 'membangun manusia'.

Dari sini lah pandangan ideal tetang masyarat saya tumbuh. Bahwa masyarat harus terdidik, harus punya adab, dan punya visi yang jelas. Sebut saja idealisme 'membangun manusia' adalah jalan ninja, boleh juga disebut grand plan

Oke, bayangkan betapa muluk-muluk pandangan ideal saya tentang masyarakat. Iya saya akui.

Saya juga sadar betul bahwa realitanya tidak demikian, iya saya pun juga sadar betul. Untuk itu ada usaha, ada yang perlu diperjuangkan. Satu hal yang juga saya sadar, sampai mati pun, tujuan itu belum tentu tercapai.

***

Itu tadi gambaran tentang idealisme saya. Muluk-muluk tapi asyik.

Lalu pertanyaannya, setelah saya pegang pandangan itu sejak kuliah semester awal, sampai sekarang semester sembilan, apakah tidak luntur itu idealisme di hadapan realita? Bahwa orang semakin butuh ini itu, orang butuh makan, kehidupan sehabis kuliah adalah kehidupan yang pragmatis dan panjang.

Tidak juga, saya temukan titik temu, idealisme dan realitas itu. Bahkan saya berani meklaim proses pertemuan itu merupakan hasil berfikir kritis. Muluk-muluk emang, tapi saya punya contoh

Awal Mula Bimbel Gratis

Kegiatan sederhana, bimbel gratis untuk anak-anak kampung. Yang ngajar mahasiswa yang juga dari kampung itu. Iya itu terjadi di kampung saya, di sebuah kampung kecil di Boyolali

Yang membuat saya terkesan bukan bimbel gratisnya, tapi prosesnya sampai tercetus ide bimbel gratis itu

Kisahnya begini; satu ketika di angkringan saya ngoceh ke teman-teman tetang keinginan saya membuat bimbel gratis. Itu sudah sekitar dua tahun lalu, dan respon teman-teman biasa-biasa saja. Disitu saya pesimis, mungkin memang belum bisa.

Baru akhir-akhir ini ada momentum. Pendemi ini membuat temen-temen mahasiswa libur. Di rumah tidak ada acara apa-apa kecuali kuliah online. Ada salah satu kawan mahasiwa yang resahnya bukan main, resah ingin berkegiatan dan produktif meski pendemi

Lalu, ada satu momen yang saya tidak ikut. Kawan-kawan saya pada makan di warung nasi goreng dekat rumah. Entah apa yang mereka bicarakan, intinya mereka ingin membuat perkumpulan mahasiswa di desa.

Saya sempat meragukan ide itu. Namun saya melihat kedewasaan temen-temen di desa, ditambah keyakinan mereka juga kuat untuk memulai itu semua.

Awalnya, saya diamkan saja, sebab saya masih ragu. Sampai ketika Adib, Hari, dan Fandi mengajak saya untuk rapat kecil-kacilan, membahas perkumpulan yang kemudian kita namai IMJ (Ikatan Mahasiswa Jeron).

Malamnya, sebelum rapat itu dimulai saya sudah memikirkan kegiatan apa yang mudah dan tidak muluk-muluk. Saya mengingat ingat pengalaman selama KKN di Simo, Boyolali dan menimbang kegiatan mana yang tidak terlalu membebani mental. Karna saya yakin, di rapat itu teman-teman pasti tidak tahu arah, atau lebih tepatnya masih bingung di langkah awal memulai.

Di dalam rapat, ada ide untuk mengawal dana desa, mengawal distribusi bantuan untuk keluar berdampak pandemi Covid-19. Mendengar itu, saya langsung pesimis dan tentunya tidak setuju. Karena itu muluk-muluk dan diluar jangkauan kita. Yaa meski mahasiswa, namun mahasiswa di desa bukan lah dewa yang bisa melakukan apapun meski tahu ilmunya. Cara mainnya bukan seperti itu.

Ada banyak permasalah di desa yang sulit, dari mulai pabrik, pertanian sampai pendidikan.

Saya saran, mulai dari yang paling mudah; bimbingan belajar gratis. Ide ini ideal dan realistis. Sebab ini masih masa pandemi, bayangkan anak-anak belajar di rumah. Kalau orang tua tidak bisa mengganti peran guru di sekolah, yaa sudah pembelajaran online cuma lebel.

Dengan latar belakang dan permasalah pendidikan yang timbul akibat efek pandemi itu; membuat bimbel gratis pasti akan berguna. Teman-teman yang rapat setuju-setuju saja.

Saya tidak mau muluk-muluk, teman-taman mau kumpul lalu mikir apa yang bisa dilakukan buat sekitar, itu sudah menyenangkan.

Saya kebagian mengerjakan panflet pendaftaran. Yang lain mengumpulkan mahasiswa di desa yang jumlahnya cukup banyak. Namun, saya pesimistis, ah, paling yang mau sedikit. Paling lima orang.

Ketika dikumpulkan, sebelum akhirnya memutuskan tanggal dan tempat. Ternyata yang hadir banyak, atau setidaknya bagi saya banyak, sekitar 20 orang.

Saya telat datang, hampir satu jam saya telat. Tapi pembahasan masih di situ-situ aja. Membuat struktur dan memilih ketua. Bayangan saya, tidak perlu berlebih dulu, cukup pilih koordinator selayaknya komunitas. Tapi teman-teman sepertinya serius ingin menjadikannya oraganisasi dengan struktur lengkap. Fandi, malah kepingin langsung sasaran kegiatannya adalah masyarkat luas. "Wah, sulit betul," batin saya. Tidak masalah, ini berarti ada kemauan.

Pemilihan ketua akhir selesai, hasil musyawarah menunjuk Hari, seorang mahasiswa UNS. Ia jurusan matematika, dan ia juga yang nantinya mengkoordinir bimbel gratis. Mengingat ia juga mahasiswa pendidikan. Jadi berada di tangan yang tepat.

Malam selasa, hari pertama bimbel gratis untuk anak SD. Saya menyangka bakal sepi, ternyata banyak, kalau tidak salah ingat, lebih dari lima puluh. Ini bisa gawat, sebab masih masa pandemi seperti ini pantang mengumpulkan orang banyak.

"Ah, tapi ada yang lebih urgent, kalau anak-anak dibiarkan saja belajar di rumah tanpa bimbingan bisa bodoh nanti," batin saya

Syukur-syukur orang tua mau mendampingi, namun kalau orang tua tidak sanggup, entah karena waktu atau yang lain. Kami, ceritanya para mahasiwa yang punya idealisme ini, berusaha menawarkan jasa bimbingan belajar.

Entahlah, menurut saya ini realita dan idealisme ketemu. Realita bahwa sitem belajar online dan sistem belajar di rumah tidak efektif untuk anak SD. Kemudian diketemukan dengan idealisme; bahwa mahasiswa itu punya kapasitas buat meminimalisir kesenjangan di lingkup pendidikan ini. Tidak semua siswa bisa belajar di rumah sandiri, tidak semua punya akses internet, dan tidak semua orang tua memiliki kapasitas untuk mengawal anaknya belajar di rumah.