Oleh Siapa Cantik itu Dibentuk?

Putri Diana/Tabloidbintang.com


Kalau saya kepingin mendefinisikan cantik, lalu melempar ke orang-orang, kemudian saya minta kita sepakati satu pengertian tentang cantik, kira-kira cantik itu apa? Jelmaan dari kata apa?

Apakah cantik itu Dewi Shinta dari kisah pewayangan? Apakah Dewi Soekarno, atau Putri Diana, sebut saja orang-orang dulu. Sampai sebut saja perempuan cantik saat ini, misal Cinta Laura, Raisha, Ariel Tatum sampai Anya Geraldine?

Sepertinya bayangan masing-masing dari kita berbeda jika ditanya siapa perempuan yang ideal disebut cantik. Sekalipun jawaban kita berbeda-beda, mungkin ada yang kita sepakati bahwa cantik itu; putih, tinggi, rambut panjang lebat nan hitam, langsing, hidung mancung, sampai gemulai. Mungkin beberapa di antara kita menambahkan sexy, body goals, dan gaya bicara yang dibuat-buat mendesah nan manja. Atau cantik itu yang berjilbab besar, putih kulitnya, tuturnya kalem, dan bercadar.

Saya cukup yakin ciri di atas pasti ada yang nyangkut di benak pembaca ketika ditanya "cantik itu seperti apa?".

Asal-usul Cantik

Asal-usul persepsi kita tentang cantik jelas tidak ujuk-ujuk hadir di benak. Ia melalui proses yang panjang dan terus menerus, yang juga bisa disebut sebagai hasil dari hegemoni, artinya dipengaruhi oleh sesuatu. 

Lalu sesuatu itu apa? Sesuatu itu adalah media massa secara umum, secara khusus televisi dan media sosial hari ini.

Saya katakan televisi karena di antara kita tidak mungkin ada yang tidak lepas dari tontonan TV. Hampir mayoritas masyarakat tumbuh dewasa bersama TV. Sedangkan eksploitasi cantik paling masif jelas ada di TV melalui acara infotainment, sinetron, dan acara gosip.

Ada masanya TV kita mengeksploitasi Julia Peres (Jupe) dan Dewi persik, mereka berdua sering kita lihat, secara sadar atau tidak, bentukan ideal seorang perempuan dalam benak orang seperti Jupe dan DP. Ada masanya juga ketika eksploitasi itu mengarah ke Syahrini, termasuk kata yang paling ikonik “maju mundur cantik”.

Di momen Asian Games yang lalu, berita di media juga memburu berita atlet cantik yang sedang berlaga. Bisanya judulnya click bait, dengan menampilkan foto-foto sexy di kala bertanding di lapangan.

Tontonan TV dan media hari ini, yang cenderung eksploitatif terhadap perempuan dan cantik itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di luar. Misal berita media internasional terutama di Inggris secara habis-habisan pernah menampilkan kecantikna putri Diana. Ia terus dibahas, mungkin sampai detail soal privasinya.

TV berperan betul dalam membentuk persepsi kita tentang cantik. Itu terjadi secara terus menerus, setiap hari, sangat masif dan tanpa kita sadari. Walau peminat medium TV saat ini sudah berkurang dan pindah ke Youtube, namun tetap saja isi konten pada dasarnya sama. Sebab isinya juga artis yang dulu menjadi primadona TV.

Hegemoni Media Sosial

Hegemoni yang saya maksud adalah pengaruh dari luar yang sangat dominan--dalam hal ini TV dan media sosial--secara masif, terus menerus, namun samar, bahkan kita sendiri tidak sadar. 

Hegemoni TV sudah cukup kuat, namun sekarang ditambah dengan media sosial. Indonesia, pernah menjadi negara pengguna Facebook terbesar, mungkin sampai sekarang. Indonesia juga menjadi salah satu penyumbang terbesar pengguna Twitter dan Instagram hari ini.

Mari bicarakan dua media sosial itu saja untuk dibuat sempel; Instagram dan Twitter. Sebab mayoritas penggunanya anak-anak muda (millennial).

Di dunia maya, eksploitasi pada dasarnya masih sama, persepsi kecantikan itu tetap; tinggi, putih, rambut lurus, mancung dll. Bedanya media sosial mempunyai efek yang lebih bias, lebih kompleks, dan tentunya dua arah.

Saya ingin memberi contoh satu kasus pembunuhan yang menarik bagi saya. Seorang gadis imut berusia 18 tahun, Isabella Guzman yang membunuh ibunya dengan cara yang sadis. Iya, saya tegaskan ulang, membunuh ibu kandungnya dengan cara yang sadis.

Yang menarik bagi saya bukan kekejamanya yang mirip legenda Inggris Jack the Ripper, namun reaksi orang-orang di media sosial terhadap Isabella. Selayaknya pembunuh, sewajarnya (biasanya) warganet akan menghujat si pelaku, dan membela si korban.

Justru sebaliknya, reaksi terhadap Isabella cenderung positif, banyak orang yang malah kagum dengan kecantikan Isabella, apalagi saat ia tersenyum di ruang sidang, parasnya mengalihkan kasusnya, seakan banyak orang lupa bahwa dia adalah psikopat yang membunuh ibunya sendiri.

Itulah yang saya maksud bias media, belokannya tidak terduga, patahnya ke arah yang kontradiktif bahkan terhadap fakta. Seharusnya publik memperhatikan kasusnya, bukan malah parasnya.

Si Cantik dari Medsos

Selebtwit, selebgram, istilah yang muncul dalam kamus per-medsos-an kita. Saya berani jamin kebanyakan mereka yang menjadi seleb (twit/gram) adalah mereka yang berparas cantik. Saya katakan kebanyakan, bukan semuanya.

Katakanlah Anya Geraldine, berawal dari selebgram, sekarang menjadi primadona, dan menjadi standar, bahwa idealnya cantik itu Anya Geraldine. Meskipun ada masanya, kata cantik kita tertuju pada Danila, misal. Ia digambarkan kalem, nakal, rokok, indie dan senja. Banyak betul selebgram dan selebtwit, cuma katakanlah keduanya sudah cukup mewakili maksud saya.

Yang ingin saya tekankan, media sosial (instagram/twitter) melanggengkan mitos cantik (harus putih, tinggi, mancung, dll). Sampai sekarang rasa-rasanya tidak mungkin menemukan orang yang beranggapan cantik itu sebaliknya, kulit hitam, gendut, pesek, dan rambut keriting.

Menariknya, hegemoni media sosial itu juga berpengaruh ke kesehatan mental. Kata-kata yang identik dengan perempuan muda perkotaan adalah: insecure. Terhadap apa? Terhadap paras, bentuk tubuh, dan kecantikan fisik.

Siapa sangka, hegemoni itu sampai berpengaruh terhadap kepercayaan diri, persepsi bahwa “saya kok tidak secantik dia” itu lumrah ada, ‘dia’ di sini tidak harus seorang Anya Geraldine atau Danilla Riyadi, bisa saja teman sejawat, teman setongkrongan, yang kebetulan lebih ‘cantik’, setidaknya menurut anggapan kita.

Gambaran kasusnya seperti ini; misal ada seorang perempuan membuka Instagram, follow banyak selebgram, atau setidaknya follow seorang teman yang dianggap lebih ‘cantik’. Satu kali, dua kali biasa saja, lama-lama timbul perasaan minder, “kok dia cantik ya, rasa-rasanya kepingin seperti dia.” 

Perasaan itu timbul setiap ia melihat postingan foto yang ternyata lebih ‘cantik’, terjadi setiap hari. Sampai pada titik dia mengalami ‘tekanan’ dan frustasi, bayangan tetang ‘cantik’ di benaknya (yang ia dapat dari media sosial) ternyata tidak bisa terwujud terhadap dirinya sendiri.

Itu hampir terjadi kepada setiap perempuan yang mengeluh insecure, lagi-lagi ia merasa bukan seorang perempuan yang ‘cantik’, padahal ia sudah ‘cantik’ seperti biasanya.

Pernah diterbitkan di rahma.id dengan judul Cantik itu Luka? diposting lagi di blog ini dengan sedikit penyuntingan dan tambahan agar masih relevan.


Nulis essay, reveiw buku, dan feature. Sesekali (iseng) nulis sastra.

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar
© Dhima Wahyu Sejati. All rights reserved. Developed by Jago Desain