Ketika Umat Islam Menjadi Ceruk Suara Politisi



Saya yakin diantara kita ada yang merasa perihatin ketika melihat gerak-gerik para politikus yang selalu berusa tarik ulur suara umat islam. Katika diawal membutuhkan dukungan untuk meraih kekusaan, dibeli dengan janji-janji manis. Ketika berkuasa suara umat dijual untuk kepentingan hasrat melanggengkan kekusaan. Ini terjadi juga di era pra-kemerdekaan sampai menjelang reformasi. Di masa penjajahan, kita bisa melihat lika-liku suara umat melalui partai yang populer waktu itu, Masyumi. 

Masyumi (1943) bisa disebutmenjadi partai yang mewakili suara seluruh umat Islam kala itu, sebab didalamnya banyak golongan seperti Persatoeam Oemat Islam, Muhammadiyah,  dan NO (Nahdlatul Oelama) bergabung menjadi satu. Ini menjadi prestasi hebat, sebab sebelumnya polarisasi muslim tradisonalis dan muslim modernis sangat tajam terlihat. Mereka hanya berselisih pahah soal furu’, hingga akhirnya keadaan poltik umat Islam yang mengkhawatirkan menyatukan kepentingan keduanya.

Partai ini lahir setelah Majelis Islam A’la Indonesia(MIAI) dibubarkan rezim fasis Jepang karena menunjukan sikap anti-penjajah secara frontal. Masyumi adalah satu-satunya partai yang berhasil membentang jaringan di seluruh Nusantara. Ketenarannya menyamai para petinggi partai nasionalis sekuler. Hal ini disebabkan perlakuan istimewa dari Jepang yang membolehkan membuka cabang di daerah-daerah.

Jepang  merestui Masyumi bukan tanpa bayaran. Fasis Jepang ingin Masyumi membantu mengerahkan dukungan rakyat dalam perang Pasifik. Untuk itu propaganda Nippon juga terus dilakukan melalui standarisasinya kurikulum sekolah. Namun, para petinggi Masyumi mampu melawan propaganda Nippon, M. Natsir, dalam keterlibatnya menyelenggarakan pendididikan di bandung, ia mengajar agama Islam sekaligus ikutmelawan propaganda-propaganda jepang tersebut

Niatingin memperalat Ulama, justru fasis Jepang yang diperalat. Ulama berhasil "mencekik leher Nippon dengan tangannya sendiri" begitu kata K.H Wahid Hasyim. Para ulama dan tokoh politik umat islam sadar betul saat itu dalam situasi perang. Jika tak pandai-pamdai berdiplomasi bisa saja kepentingan politik umat sulit dicapai.

Jepang tak pandang bulu, siapapun yang menghalangi kepentingan politik Jepang pasti akan ditebas juga, maka lebih baik pura-pura mendukung kepentingan jepang diluar, nanum yang diperjuangkan sebenarnya adalah kepetingkangan umat Islam di dalam. Alhasil,Suara umat gagal dibeli oleh Jepang.

Padaera rezim Soekarno, Masyumi kandas. Setelah bersitegang di meja sidang konstituante, dan setelah Natsir di turunkan dari jabatan Perdana Menteri pertama NKRI, hubungan Masyumi dan Soekarnobergejolak. Masyumi dianggap tidak merestui kepentingan Nasakom. 


Sebaliknya, Presiden Soekarno makin mesra dengan partai kiri, PKI. Akhirnya, Masyumi oleh rezim Soekarno dinyatakan sebagai partai terlarang. Para petinggi partai pun ditangkap. Bahkan, Buya Hamka, yang terkenal lebih moderat juga ditangkap.

Setelah sekitar dua tahun penangkapan Buya Hamka. Rezim Soekarno lengser, dan Soeharto menjadi pelaksana tugas (plt). Soeharto mendapatkan dukungan dari umat, begitu juga para petinggi Masyumi. Salah satunya adalah M.Natsir. kedekatan Soeharto dengan M. Natsir menjadikan para petinggi partai yakin akan  mendapat kembali hak berpolitik seperti dimasa sebelumnya.

Namun nihil, setelah dilantik oleh MPR Soeharto lebih hebat lagi menekan para politikus Islam, terutama eks Masyumi. Soeharto hanya berkepentingan menyingkirakn lawan polititik dari golongan kiri (PKI) dan memanfaatkan gojolak massa anti-PKI termasuk simpatisan Masyumi. Rezim ini juga menekan toloh eks Masyumi untuk berpolitik, bahkan Mohammad Roem yang terkenal moderat tidak diperbolehkan memimpin partai PMI atau Permusi.

Keadaan ini membuat M. Natsir membentuk Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) pada 1967. M. Natsir dan kawan-kawan bergelirya untuk kepentingan politik umat melaui pendidikan. M. Natsir berdakwah dan mendidik umat sekaligus mengupayakan kepentingan politik umat melalui DDII.

Setelahnya, Soeharto mendirikan MUI (1975), ia ingin mengontrol para ulama agar kelangsungan kekuasaannya tetaplanggeng. Namun apa daya, pada momen hari raya umat Kristen, Buya Hamka justru menolak tunduk pada rezim untuk mencabut fatwa haramnya mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani. Buya Hamka memilih mundur dari jabatan ketimbang harus menuruti perintah Soeharto yang bertentangan dengan aqidah Islam

Sampai pada akhirnya keadaan peta politik berubah, rezim Soeharto mengubah taktik. Rezim yang makin kritis ini berusaha mencari dukungan umat Islam. Rezim ini juga merestui berdirinya Ikatan Cedikiawan Muslim Indonesia (ICMI), dengan catatan harus dipimpin oleh B.J Habibie yang dianggap mampu menjambatani kerekatan hubungan umat dengan rezim Soeharto selain itu banyak menterinya juga ikut bergabung menjadi anggota guna mengawasi organisasi yang dihuni para intelektual tersebut

Upaya membeli suara umat tidak hanya itu, ia memainkan setrategi komunikasi politik dengan memunculkan simbol-simbol agama. Presiden Soeharto naik haji pada 1991. Namanya sering dituliskan dengan H.M Soeharto. Ia juga menambahkan Muhammad (M) setelah gelar Haji (H). Soeharto merasa perlu melakukan ini, ia sadarkekuasaannya terancam karena peta politik internasional yang berubah. Salah satu cara adalah menarik suara umat yang selama ini tidak diberi ruang untuk berpolitik.

Namun, keadaan justru berbalik. Rezim Soeharto tak mampu bertahan di tengah badai krisis moneter. Bahkan, Amien Rais tokoh penting Islam danMuhammadiyah menjadi kunci dari pergerakan masa kala itu. Reformasi terus degalakan.

Keadaan memburuk ketika 14 menterinya memilih mundur dan mendukung reformasi. Presiden Soeharto katar-ketir, puncaknya mahasiswa berhasil menduduki gedung MPR. Hingga momen bersejarah 21 Mei 1998, Soeharto mundur sebagai Presiden.Berakhir sudah perjalanan 32 tahun kekuasaan rezim Soeharto sekaligus menjadi gerbagn masuk era Reformasi. Dalam posisi ini, suara umat Islam gagal dibeli oleh Soeharto

Polanya hampir sama, suara umat, kepercayaan umat, dan harapan umat dipermainkan untuk kepentingan memperpanjang umur kekuasaan belaka. Umat dirayu manja diawal, dan dimadu pada akhirnya. Bagaimana sekarang, masihkah berusaha merayu dayu suara umat. Akankah setelahnya sama saja? yang jelas kita dapat satu benang merah. Siapa saja yang berusah mepermainkan suara umat, baik di era Jepang, Soekarno sampai Soeharto, pada akhrinya berakhir malah blenjani.  

 

Boyolali, 30 Januari 2018
Penulis/Jurnalis

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar
© Dhima Wahyu Sejati. All rights reserved. Developed by Jago Desain