Cinta yang Tumpah di Atas Dipan




Cafe itu berdinding buku, dimana-mana buku, mungkin ribuan jumlahnya. Tidak ada pengunjung kecuali dua orang, sepasang teman laki dan perempuan yang jarang ketemu itu, bahkan baru ketemu sekarang, sedari tadi duduk berhadapan sangat dekat. 

Kaki mereka bersentuhan, dengkul mereka ketemu, bahkan terkadang hampir menyentuh selangkangan. Meja kecil itu memungkinkan kedua tubuh itu berdekatan. Tatapan yang saling menatap saban bicara, menandakan keakraban dan kepercayaan. Meski, sekali lagi, mereka sebenarnya jarang ketemu.

Laki-laki itu mulai tegang, keringat dingin sesekali, ketika si perempuan dengan tenang menceritakan perihal cintanya. Ia menjalin hubungan saling terikat, hubungan rehasia dengan seorang laki-laki seumurannya. 

Ia baru saja putus cinta, dan diperjalanan tadi ia bilang pengin punya pacar. Mendengar pengakuan dirinya yang tidak punya pacar, mana ada yang percaya, dia cantik, penuh tingkah namun itu yang membuatnya memikat, badannya pendek namun langsing, kulitnya kuning, wajahnya oval dengan hidung mungil yang sedikit mancung, bibirnya tipis namun mempesona, dia ideal sebagai seorang perempuan muda. Lalu kenapa bisa tidak punya pacar, ah, pertanyaan besar. Lebih lagi, kok bisa ada lelaki yang meninggalkannya. Tapi yang membuatnya lebih bertanya-tanya, kenapa ia merahasiakan hubungannya ke banyak orang, sedang sekarang ia kepingin cerita.

Sembari minum Red Velvet ia bercerita kepada lelaki itu. Lelaki itu mendengarkan dengan cermat, sesekali kopi V60 diseruput pelan. 

"Hubungan yang teramat rehasia itu," kata si perempuan, melibatkan rasa yang lumayan kuat. Rasa dan hasrat yang saling berdekatan, kadang bercampur, menjadi ekpresi yang mungkin itu disebut cinta. Eksprsi  'yang mungkin cinta itu' butuh ruang, ia tidak bisa dibiarkan di ruang hampa. Ruang ekspresi mengharuskan waktu juga tempat secara bersamaan hadir. Ruang itu teramat privat, "Aku tidak mau semua orang tahu."

Ruang itu boleh jadi dipan, ruang yang paling ideal, di dalam ruang bersuhu 27 derajat itu kadang waktu bisa berkompromi dengan tempat, agar berjalan lebih lambat, agar tempat juga bisa menggelar fungsinya sebagai ruang ekspresi. Jadilah itu dipan. Dipan dipercaya sejak dulu sangat mistis, ingat lukisan-lukisan Yunani, sering berlatar dipan.

Dipan memungkinan menjadi ruang ekspresi yang paling leluasa. Keleluasaan itu seakan mengharuskan ada interaksi, antar dua otoritas tubuh yang saling bersepakat akan bertemu dan bercakap-cakap lewat gesekan, sentuhan lembut, dan bisikan kecil di dekat telinga. Sambil menghembus tipis nafas yang terengah, lalu telinga yang berdekatan dengan bibir itu bergema, sangat pelan damun bergemuruh, ingatannya mengenai suara yang terhembus itu akan lama, teringat setiap saat ketika si perempuan menginginkannya.

Telinga sudah cukup memberi kesan. Bibir itu lalu bersentuhan dengan kening, sambil mata bertemu mata, mereka saling berkenalan di saat malam makin dingin di luar, sedang dalam raung ekpresi itu semakin gerah. Tangan berpapasan dengan tangan, saling menggenggam adalah tanda keakraban, tangan kini saling memeluk, dan jari-jari saling masuk di sela-sela. Tangan adalah bagian tumbuh yang paling lelusa melakukan pertemuan. Ia bisa merasa dengan baik, satu sentuhan paling kerasa ketika ia menyentuh kelembutan. Kelembutan yang paling sentimentil. 

Bibir lalu bercakap-cakap dengan bibir, mereka asik, bertukar rasa. Sekecap dua kecap, pembicaraan mereka semakin cepat. Sampai lidah pun turut hadir dalam percakapan, ia berfungsi mengelola tempo, agar terus bisa bercakap, sampai keduanya paham bahwa malam sudah semakin panas.

Kini giliran bibir yang harus bertemu dengan yang lain, ia tidak boleh pasif, sementara tangan teralalu aktif, ia bertemu dan kepingin merasakan kelembutan. Tangan tidak keberatan, ia harus terus menerus di situ, tangan tidak mau pergi, memang tidak perlu. Namun bibir, yang berhenti bercakap-cakap, tetap saja melibatkan lidah guna memastikan kelembutan itu tidak disia-siakan. Pucuk dari kelembutan harus di raih. Ah, nampaknya ia kepingin memanjakan. 

Satu interaksi memang terkadang menghadirkan kelembutan, namun kadang pula asam. Keasaman yang harus dimaknai sebagai interaksi paling intim, paling dekat dengan ujung. Bibir, juga lidah harus menerima keasamaan demi satu tujuaan; kelegaan. Bibir berkecap, lidah mengatur kecap-kecap itu. Semkin lama, semakin cepat, semakin dalam pula, sampai kelegaan itu hadir. 

Ekpresi itu akhirnya selesai, semua tumpah di atas dipan. Buah dari kesabaran dua tubuh yang ikhlas saling berkenalan. Tidak saling memaksa, apalagi menggila. Satu bentuk ekspresi cinta, adalah kelegaan. Sudah lega sekarang, kini waktu kembali seperti biasa, cepat berlalu. 

Begitu isi perbincangan laki-laki dan perempuan itu. 

Sudah hampir tengah malam, perbincangan mengenai 'yang mungkin disebut cinta' itu menyulut api si lelaki. Ia naik rasa, dan berusaha biasa saja. Meski ketika pulang berboncengan, ia terbayang soal cerita si perempuan. Ia tidak pernah menikmati percakapan yang mengagetkan begini. 

Di atas motor dan jalanan sepi, wangi parfum mengingatkan semua soal keindahan, kelegaan, dan keikhlasan. Ah, begitulah perempuan, ia teramat manis dan indah. Kadang penuh misteri, kadang pula bikin kaget. Itulah mengapa, ia harus dihargai setinggi-tingginya.

Lelaki itu mereasa beruntung, mendapat kepercayaan atas segala cerita yang paling intim dari si perempuan. Ia kini bisa membayangkan ceritanya sembari menulis. Iya, menulis, hanya itu yang ia bisa lakukan. Sebab jika mau berbagi raung ekspresi dengan perempuan itu, hampir mustahil, kecuali raung-raung dibawanya ke atas kertas, ditulis dengan khidmat di telepon pintar, lalu dibagikan dengannya lewat raung ekpresi lain, yaitu ruang maya, satu ruang paling fana yang hanya tersusun dari angka biner dan algoritma semata.

Ah, yang terpenting bagi lelaki itu sekarang adalah sebuah rasa paham, bahwa si permpuan yang mengagetkan dirinya itu sebenarnya orang baik, orang paling apa adanya dan paling jujur yang pernah ia temui. Ia berdoa kepada Tuhan, semoga perempuan itu terawat keindahannya.

***

Wangi parfum
Lampu kuning redub
Ruang penuh buku
Meja terlalu kecil
untuk kita berdua bicara

Berbicara adalah tabu
Mencengangkan,
Sampai tengah malam
Tidak ada yang bisa
menghentikan kata,
Jangankan pemilik kedai,
waktu pun tak bisa berbuat banyak

Tidak ada makna perihal kita
Termasuk perihal kata
Sebab pertemuan yang sebentar
Membekas sukma
Terbayang purnama
Tersimpan nama
Cantik mempesona

Mari cumbui malam
Meski kita bakal sengsara
Jika berdua terlalu lama
Namun selama itu masih malam,
selama yang tahu hanya sepi
Aku akan berkata,
sembari lirih
menghembuskan nafas di telinga kanan,
"Tidak ada maslah,
nikmati saja kita sebagi candu
Anggap saja untuk malam ini
kita adalah sepasang kekasih
yang sedang kegirangan meluapkan cinta pertama, di tengah purnama"

Begitu tulis lelaki itu. Sembari ia tidur, ia baca-baca lagi tulisan itu, sampai terbawa mimpi. Ia bermimpi tercebur sungai. Itu membuatnya sangat basah, terutama celananya sudah terlalu basah, sampai membuatnya harus mandi, lalu ganti celana lain. 

Terjerembab. Itu mimpi paling aneh. 


Nulis essay, reveiw buku, dan feature. Sesekali (iseng) nulis sastra.

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar
© Dhima Wahyu Sejati. All rights reserved. Developed by Jago Desain