Melihat GA sebagai Korban




Tiga hari ini (31/12), nampaknya Twitter masih ramai membicarakan video syur mirip artis GA. Dua hari lalu tentang GA, dan hari ini tentang Roy Martin, semua menyangkut kasus video porno. 

Seperti biasa, media ngikut, pembicaraan mengenai sexsualitas para artis memang menjadi pembicaraan empuk media. Sudah viral, kontroversial, dan sensasional, ini jelas paket lengkap. 

Namun perlu dingiat, kasus GA, jelas urusan privat. Kasarnya, hanya masalah selangkangan. Saya ingat media selalu kencang memberitakan tipe-tepe berita semacam ini. Seya dulu, ketika Inul Daratista muncul dengan goyang erotis, video porno Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari, termasuk Lucinta Luna.

Lucinta, ketika itu sedang kena masalah narkoba. Namun eksposur media, bukan lagi di masalah narkoba, melainkan masalah sex (jenis kelamin). Mepertanyakan apakah Lucinta, seorang pria atau wanita?

Melihat GA, Sebagai Korban

Sialnya, GA mengalami masalah yang sama. Ia menjadi korban dari hasrat jurnalisme sensasioanal, jurnalisme sexual, atau apapun istilah kasarnya. Tipikal jurnalisme semacam ini biasanya; memposisikan perempuan sebagai objek, tidak jarang mengumbar nafsu. Topik ini sudah sering dibahas oleh para aktivis perepuan, temasuk Mbak Kalis, simak saja penjelasannya. Saya mereasa tidak pantas. 

Di kebanyakan berita, Gisel diposisikan sebagai objek, Mari membaca berita satu ini,
Ada Fakta Lain yang Diakui Gisel saat Begituan dengan MYD, Duh. Berita ini ditulis oleh media jpnn.com. Dari judul, nama GA tidak disamarkan, sedangkan pria yang diduga terlbiat, disamarkan. 

Lalu judul berita tersebut menekankan dan mengedepankan apa yang dilakukan GA, bukan pada perkara hukum yang menjeratnya. Ini bisa dilihat dari pemakaian kata 'begituan'. Didukung ilustrasi yang diambil dari potongan video.  

Berita ini, hanya berisi satu informasi, bahwa ada pengaruh alkohol pada diri Gisel. Itupun, jika tidak diberitakan tidak berpengaruh pada proses hukum yang dijalankan.  

Kalaupun memang ingin diberitakan, setidaknya judulnya "Polda Metro Jaya: GA dalam Pengaruh Akhohol". Ini lebih jelas, dan nyaman untuk dibaca. Sebab jelas poin beritanya tentang apa. terdapat juga keterangan siapa yang memberi fakta, dan tentunya menghargai privasi orang. Sebab sekali lagi, kasus ini bukan perkara publik, melainkan masuk pada ranah privat.

Sejak awal, video tersebut salah ketika tersebar di media sosial. Video sepersekian detik itu, biarkan menjadi masalah pribadi dan diselesaikan secara personal. Namun bubur terlanjur ajur, sudah terlanjur.

Pipa itu Milik Publik

Pemberitaan ini sempat menutupi berita penting lainya. Misal berita tentang mutasi virus baru di Inggris, yang nampaknya berpotensi masuk ke Indonesia, sebab diketahui sudah sampai Singapura. Virus ini lebih cepat menyebar, menular, dan lebih ganas. 

Jelas ini berita penting, alih-alih membicarakan cara mengantisipasi. Atau kebijakan publik yang diambil pemerintah. Berita semacam ini, saya rasa tertutup dan kalah viral dari berita video syur sepersekian detik itu. Nitizen, lebih peduli dan mncari-cari 'link video' ketimbang keslamatan dirinya sendiri.

Media, punya 'pipa' yang tidak dimiliki oleh semua orang. Pipa itu adalah frekuensi, atau plaform digital yang besar. Pipa itu, diatur oleh negara sebagai milik publik, penggunaanya harus mengedepankan kepentingan publik. 

Namun media, dengan tuntutan dan kepentingan bisnis, jelas menaruh porsi lebih pada apa yang paling sering dibicarakan publik. Polanya selalu sama, dari dulu berita penting, memang kalah dari berita sensasi. 

Sebagai pemilik 'pipa', media punya tanggung jawab mendahulukan kepentingan publik, ketimbang kepentingan bisnis mereka. Dalam arti lain, 'pipa' itu harus digunakan pada urusan-urusan publik, bukan urusan privat, apalagi urusan─maaf─selangkangan. 

"Berita soal seks individu warga bisa menyaingi perhatian publik pada bencana pendemi terburuk seabad?" ─ Ariel Heryanto, Indonesian Scholar, The Australian National University, Australia