Pakaian



Sepanjang ingatan saya, Mas Bandung dulu gondrong, ala-ala seniman. Pada waktu itu, tahu pertama kali sekitar tahun 2016, ketika saya baru lulus SMA. Mengikuti seminar tema sastra di UMS. 

Kamarin, di penghujung bulan Januari 2021, saya bertemu lagi Mas Bandung di rumahnya; Bilik Literasi. Ia keluar dengan tampilan yang sangat berbeda, peci kain, kaos oblong, dan sarung. Yang membuat saya semakin pangkling, jenggot panjang dan brengos tebal. 

Ini perjumpaan dan kunjungan pertama ke Bilik Literasi, selama ini saya hanya mendengar 'mitos tetang komunitas yang mentereng ini. Akhirnya saya buktikan sendiri mitos itu. 

Saya bisa datang ke Balik Literasi karena acara Bukan Management. Mereka membuat acara bincang buku yang amat teramat mahal. Sisi lain niat saya ke sana, untuk belajar nulis esai perihal kebudayaan sehari-hari. Entah kenapa, mungkin karena pakain yang dikenakan Mas Bandung, malah terasa seperti berguru kepada Sufi, dan Mas Bandung sebagai pemandu spiritual.

diskusi di Bilik Literasi


Namun, Pak Patrick dan kawan-kawan Bukan Management, menyebut Mas Bandung justru sebagai pemandu wisata, bukan pemandu spiritual. 

Saya ingin meyakinkan jajaran Bukan Management, bahwa ini acara kerohanian, ini wisata 'relegius', ini pengajian Ahad Pagi, temanya adalah 'pakaian'.

Sebab rasanya berkebalikan, saya dipandu dari masa Rangga Warsita, pujangga Jawa yang belakangan sangat terkenal-- mengisahkan, pernah di masanya, profesi tukang jahit yang biasa di pinggir jalan itu, manjadi profesi idaman. Barangkali karena terlihat mudah, orang punya kain, lalu butuh pakain, tinggal diukur sesuai permintaan, jadilah baju. Opahnya lumayan.

Rangga Warsita


Konon, Rangga Warsita enggan menjadi penjahit, sebab kenosekueinsinya berat.Watak manusia tidak cepat puas dan menerima, bisa jadi si empunya kain tidak terima; karena kebesaran atau kekecilan, ia komplen. Konsekuensi berat tukang jahit satu; ia harus mau dan menerima kritikan, sekeras apapun. 

Meski konsekuensi ini berat, balai pelatihan kerja gencar melatih menjahit, sebab di masa Demokrasi Terpimpin, mungkin sampai masa Orba, perempuan yang mempunyai kemampuan menjahit masa depannya akan lebih cerah. 

Sadar atau tidak, kita ini gemar betul menjahit baju. Saya iseng membuka baju lemari ibu, isinya seragam pengajian, sekurang-kurangnya empat jenis. Saban minggu ganti jenis, saban minggu pula ibu bingung. 

"Eh, dino iki sergame apa ya?" ini tentu diucap sebelum berangkat pengajian, ungkapan rasa bingung.

"Wah, ga tau" jawabku, tentunya tidak tahu menahu bab perseragaman ibu-ibu pengajian.

Kemudain ibu keluar kamar, memakai seragam biru. Setalah berpamitan, ibu berangkat. Di jalan dilalah ketemu rombongan ibu-ibu pengajian. Sahut-sahutan kata pun terjadi, nampak terdengar serius mereka bebincang, ibu saya terlibat, rasa-rasanya ini masalah besar. Jujur saja, saya ikut tegang, lalu tiba-tiba ibu masuk rumah lagi.
    
"Loh kenapa bu, ada masalah apa?" 

"Salah seragam" 

"Oalah, kok tegang men?" batin saya

Saya kemudaian bertanya-tanya, apa pentingnya berseragam. Maksud saya, kenapa harus sama dan kompak, malah setiap RT, ibu-ibu pengajian punya seragamnya sendiri. Tentunya, dengan motif yang mbedani. Mereka tidak mau sama, pokoe, harus beda. Titik.

Barangkali 'seragam' akan menjadi semacam identitas sosial, makanya ini persoalan serius. Sangking seriusnya, saban musyawarah dusun, selalu menjadi wacana penting. 

Musyawarah yang dihadiri oleh seluruh jajaran RT, RW, Kelurahan, dan tokoh masyarakat setempat, tujuannya untuk menentukan program apa saja yang harus segera dilaksankan. Tentunya ini musyawarah terpenting sepanjang tahun.

"Ibu-ibu soho bapak-bapak, monggo umpami enten usulan?" tanya Pak Bayan dengan bahasa Jawa halus.

Kemudan pak Suro, selaku moderator, melempar kesempatan ke masing-masing organisasi masyarakat.

Pertama, ketua karangtaruan RT 5, "saya usul seragam pak," Pak Bayan kemudian sigap mencatat di laptop. 

Giliran ketua karangtaruna RT 7, "seragam baru pak" Pak bayan mencatat lagi, ia mengetik dengan dua jari telunjuk. Nampak di layar LCD-proyektor, ia mengetik dengan kecepatan sangat lambat. 

Giliran ibu-ibu pengajajian; semua dari penjuru RT  kompak menjawab; "seragam baru pak"

Kenapa bisa sepenting itu seragam?

Menurur Mas Bandung, semua berawal dari Ibu Tien Suharto, sang ratu dari istana kepresidenan, ia selalu memerintahkan ketika satu ormas meeting denganya, maka wajib hukumnya punya seragam. Tujuannya untuk pengawasan, konon, sampai dicatat oleh petugas; ibu-ibu Aisyiyah sergamnya ini, ibu-ibu Fatayat NU seragamnya ini, dll.

Karena ibu tien itu ibu negara, secara struktural ia memainkan peran politik pakain. 

Kebiasaan berseragam bertahan sampai sekarang. Apalagi PNS (sekarang ASN), bapak saya adalah Pegawai Negeri, ia dulu kepala sekolah SD Gading I Surakarta, sebelum akhirnya pensiun karena meninggal. 

Baju tinggalkan bapak banyak betul, kebanyakan bukan baju harian, melainkan baju dinas. Seragam sekolah ada sendiri, seragam PGRI ada sandiri, sampai seragam PNS ada sandiri. 

Saya teringat hampir setiap hari, bapak berganti-ganti seragam, kecuali hari minggu, ia hanya menggunakan kaos singlet merek--entah saya lupa, pokoknya merek itu sangat digemari bapak-- yang ia beli di Luwes Nusukan.

Politik pakain ternyata berangsur menjadi budaya, sekarang orang berpakain tidak hanya untuk menutup aurot--kadang itu tidak penting bagi sebagian orang, justru yang paling penting adalah pakain sabagai identitas. 

Coba, kalau saya sebut koko putih, sarung, dan songkong kira-kira mewakili identitas yang mana? Misal, saya sebut sorban, gamis, dan celana ngatung, itu mewakli yang mana?

Yang menjadi perosalan adalah pakain yang dikenakan Mas Bandung; peci kain, sarung, kaos oblong, jenggot panjang, dan brengos tebal, itu mewakili identitas apa? 

Post a Comment