Review Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck




Salahkan Hamka, yang malah menyebabkan tenggelamnya Kapal van der Wijck, memilih tidak menyatukan-mepertemukan Zaiunuddin dan Hayati? Buya Hamka adalah dalangnya. Padalah jelas-jelas keduanya saling cinta, saling mengasihi.

Barangkali perasaan di atas, sudah banyak yang mengungkapkan. Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck sangat poluler pada masanya, bahkan sampai sekarang. Surat pembaca yang diterima oleh Hamka ini barangkali menjadi bukti. Surat ini diambil dari artikel Hamka, Mengarang Roman, majalah Pedoman Masyarkat yang dikumpulkan oleh Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin.

... Engkoe Hamka, pertemoekanlah hayati dengan Zainoeddin, djangan dia dimatikan. Kasihani anak saja, tiap-tiap menoenggoe samboengan tjeritera itoe bedoa djoega, tolonglah kedoea orang moeda itu...

... Enkoe Hamka, generasi dan semangat moeda menghendaki kemenangan. Adat kolot mesti kalah, sebab itoe hendaklah kedoenya bertemor joega ...

... Toean Hamka, kasihani saja, soeggoeh kalau toean tidak akan toetoep itoe tjrita dengan kematian!

Awal Mula Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck

Awalnya kisah roman ini dimuat secara berkala pada 1938. Menjadi cerita bersambung di majalah Pedoman Masyarakat yang dipimpin Hamka sendiri. Karena antusias yang tinggi dari para pembaca, akhirnya dibukukan menjadi novel pada cetakan kedua (1939).  

Menjadi salah satu novel yang berpengaruh. Umurnya juga sudah tua, dihitung dari cetakan pertama, umur novel tersebut 83 tahun (2021), teralu tua untuk ukuran manusia, cukup langgeng usianya untuk ukuran karya sastra.

Meski sudah berlalu cukup lama. Novel ini tetap dibaca oleh generasi selanjutnya. Mempengaruhi banyak novelis, termasuk salah satu sastrawan Indonesia hari ini, Andrea Hirata. Ia menyebut dalam adegan percakapan di Novel Laskar Pelangi (2005).

“Misalnya ketika kami berkumpul dan Trapani bercerita tentang bagusnya buku Tenggelamnya Kapal van der Wijck, karya legendaris Buya Hamka.” (Andrea, 2005. halaman 76).

Pengeruh novel tersebut sampai sekarang terus dirasa. Sampai pada tahun 2013 lalu, novel ini diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama. Disutradarai oleh Sunii Soraya dan diproduseri oleh Ram Soraya. Menurut Republika, film Tenggelamnya Kapal van der Wijk mendapat 1,7 juta pononton. Dan ditaksir meraut untung 60M.

Latar Belakang Budaya dan Agama

Latar belakang Hamka, jelas mempengaruhi gaya novelnya, termasuk wacana adat Minangkabau dan Islam di dalamnya. Minangkabau terkenal dengan identitas Islam yang ketara.

Hamka lahir dan besar di sana, tanah Minangkabau. Tepatnya, di Maninjau, Sumatra Barat pada 16 Februari 1908. Masa kecil sampai muda, ia habiskan di tanah adat itu.

Selain itu, ia berasal dari keluarga ulama. Ayah Hamka, H. Abdul Karim Amrullah mengkader dirinya menjadi ulama. Untuk itu ia belajar Islam dan bahasa Arab di Sumatera Thawalib, semacam sekolah diniah di Jawa.

Hamka menulis dengan latar budaya Minangkabau, tahun 1930an. Ia mengisahkan Zainuddin yang cinta pada seorang perempuan, Hayati. Keduanya jelas saling cinta, saling ingin memiliki.

Klasik, cinta mereka tidak derestui oleh adat. Sebab Zainuddin tidak diakui, ia juga orang miskin. Meski baik budinya, adat tetaplah adat, kalau di Jawa ada cinta yang terhalang weton. Cinta Zainuddin terhalang adat, kasta, ras, dan keturunan. Ujungnya, adat semacam ini justru membuat derita.

Nilai adat Minang yang kental, jelas mempengaruhi Hamka dalam menulis novel. Sebenarnya, ini juga bisa dibilang sebagai bentuk kritik Hamka atas adat yang kolot.

Selain itu gambaran tokoh utama, Zainuddin; yang alim, pandai agama, kaya akan hikmah, dan pandai mengarang, bisa jadi menjadi gambaran sebagian kehidupan Hamka sebagai seorang yang taat dan teguh memegang nilai keislaman. 

Sebagaimana Hamka juga memasukan nilai dakwah Islam secara tersirat, misal kutipan di bawah ini.

“’Hanya dua untuk mengobat-obat hati, Base,’ katanya kepada mamak, ‘pertama membaca Al-Qur’an tengah malam, kedua membuaikan si Udin dengan nyanyian negeri sendiri, negeri Padang yang kucinta.’” (Hamka. Tenggelamnya Kapal van der Wijck. cet 15, 1982. hl. 20)

Jika membaca secara seksama, bisa juga didapati nilai ketuhanan yang sudah selesai di novel tersebut. Tipikal novel Hamka tidak terlalu terpengaruh oleh novel barat (pasca Renaissance), yang cenderung menonjolkan rasionalitas dan menolak kehadiran agama, termasuk keterlibatan Tuhan di dalamnya. Hamka sebaliknya, ia secara eksplisit, terang-terangan menyebut nama Tuhan, Allah Swt.

“Allah yang tahu bagaimana beratnya perasaan hatiku hendak melepasmu berangkat pada hari ini, tapi apa yang hendak kuperbuat selain sabar. Tuhan telah memberi saya kesabaran...” (Hamka. hl 67)

Maklum, selain karena latar belakangnya sebagai seorang ulama, Novel Hamka juga lebih banyak dipengaruhi oleh khazanah sastra Arab. Ia menggemari Mustafa Lutfi Al-Manfaluti, seorang sastrawan berpengaruh di Mesir.

Melalui latar belakang budaya Minangkabau, agama Islam, dan khazanah sastra Arab, lahirlah nama Hamka sebagai pengarang novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Buya Hamka, Pelopor Sastra Islam

Bisa dibilang, Hamka, menjadi salah satu pelopor sastra Islam paling awal. H.B Jassin dalam Genealogi Sastra Indonesia (Okky. 2019, hl. 28 PDF) membatasi pengertian sastra Islam pada cita-cita dan pandangan hidup yang dihasilkan di dalamnya. Dengan kata lain, terdapat wacana keislaman di dalam karya sastra tersebut.

Seperti kutipan novel di atas, Tenggelamnya Kapal van der Wijck jelas terdapat wacana keislaman dan nilai dakwah di dalamnya. Dimana letak wacana keislaman dan nilai dakwahnya? Hamka menggambarkan melalui dialog, atribut keislaman, ungkapan bahasa Arab, dan simbol Islam lainnya.

Sebetulnya, itu semua hanya tempelan dari novel yang ditulis Hamka ini. Yang dimaksud tempelan adalah apabila unsur-unsur tersebut dihilangkan, tidak mengurangi sedikitpun pokok dan alur cerita. Novel Hamka, termasuk Tenggelamnya Kapal van der Wijck, tetaplah sebuah kisah cinta (roman) dengan Islam sebagai latar dan bumbu penyedabnya. (Okky. hl. 33).

Post a Comment