Majalah Basis (Oktober 1981): Soal Teknik Menulis

Penulis muda, selalu dihadapkan diantara pilihan; mau meningkatkan teknik tulisan atau mengasah kepekaan mengembangkan cerita. Teknik memang selalu penting, namun jika teknik tidak diimbangi dengan 'kepekaan', bisa jadi tulisan akan menjadi hambar. Diskursus seru begini terjadi juga di acara Lokakarya (1981) yang dihadiri oleh 22 penulis muda, bertempat di Wisma Gunung Mas, Cikopo Selatan, Puncak, Jawa Barat.

"Hal ini bisa terjadi lantaran hari pertama pada hari pertama Mochtar Lubis membordemen dengan serentetan tuntutan mutlak akan penguasaan teknik bercerita bagi penulis cerpen. Kemudian disusul oleh Budhi Darma dengan teori sastra dan metoda saling mengkritik karya orang lain lewat ide Sapardi Djokodamono yang ternyata mampu membuat bringasnya pemilik cerpen.

Metoda begini memang menarik dan patut dikembangkan. Selain para pengarang tidak merasa digurui, mereka juga sadar bawa diluar dirinya terdapat pendapat yang layak juga diperhitungkan. Kepongahan yang biasanya disandang oleh oleh seorang sastrawan akan nampak dengan sendirinya. Kepongahan bahwa mengetahui teknik bercerita sebagai tak ada gunanya lantaran diduga bahwa dengan hanya menguasai teknik berarti hanya akan menjadi seorang tukang cerita saja, sedikit demi sedikit mulai disibakkan." (Majalah Basis. Oktober. 1981. XXX. 13.)


Perdebatan semacam itu tetap terjadi hari-hari ini. Di kelas kuliah, oleh para dosen Jurnalistik pasti menyinggung perihal teknik menulis, kemudian para mahasiswa disuruh menukia sesui teknik yang diajarkan. 

Saya juga pernah terlibat diskusi kepenulisan di Kulon Progo (2019). Agus Mulyadi, penulis asal Jogja berpendapat sebaliknya, bahwa pelatihan kepenulisan (termasuk lokakarya) itu hanya permukaan, habis dari sini tidak mungkin peserta pelatihan langsung menjadi penulis. Sebab katanya, menulis itu soal proses dan jam terbang, jadi tidak bisa instan satu hari dua hari pelatihan langsung jadi. 

"Sehingga seperti apa yang dikemukakan oleh Umar Kayam bahwa teori Cerpen itu hanyalah urusan para sarjana sastra. Banyak mengetahui teori cerpen itu hanya akan membuat tukang-tukang yang trampil membuat makalah. Dengan lantang Pak Kayam berucap: 'membuat penulis cerpen baik bukanlah lewat lokakarya. Jangan ajari mereka teknik bercerita, tapi ajarkan bagaimana melakukan pendekatan agar dapat menangkap kehidupan dengan cermat dan teliti.'" (Majalah Basis. Oktober. 1981. XXX. 13. hal 408)

Umar Kayam sangat tegas mengatakan bahwa teknik menulis itu 'tidak penting'. Sebab baginya, cerpen yang bagus adalah yang bisa memberi tahu satu aspek baru atau interpretasi baru dari kehidupan. Jangan sampai cerpen itu mendekati laporan jurnalistik, yang hanya menyajikan menu kata sewajarnya saja. Pendapat Umar Kayam memang menarik, namun memang ia jelas seakan menihilkan teknik menulis. 

Diskursus seru ini, menghasilkan dua ekstrem yang sama kuat. Sisi lain Mochtar Lubis sebagai ekstrem kanan yang menekankan bahwa teknik itu mutlak harus dipelajari. Sedang Umar Kayam sebagai ekstrem kiri yang mengatakan teknik menulis cerpen itu mutlak tidak perlu. 

Baru sekitar 38 tahun kemudian satu forum literasi di UMY, Jogja, memilih jalan tengah, salah satu pemateri berpendapat, teknik menulis itu ibarat kita bermain bulu tangkis. Kalau orang kampung bermain bulu tangkis di jalan saban sore. Ia tidak kunjung menjadi atlet, padahal ia bermain tiap hari tanpa henti. Lantaran mereka tidak melatih teknik bermain mereka, kemampuan memainkan raket itu tidak akan pernah berkembang. 

Begitu juga penulis, menulis memang soal proses dan jam terbang, lalu teknik berguna juga untuk menunjang proses itu sendiri. Hingga pada akhirnya ia menjadi penulis dengan kepekaan mengembangkan cerita dan memiliki kemampuan teknik menulis yang juga mumpuni. Keduanya memang penting, lho.

Keyword: Lokakarya, Cerpen, Teknik Munulis
Nulis essay, reveiw buku, dan feature. Sesekali (iseng) nulis sastra.

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar
© Dhima Wahyu Sejati. All rights reserved. Developed by Jago Desain